Terompet khas itu disebut vuvuzela, terbuat dari plastik dan berukuran hampir satu meter panjangnya. Situs wikipedia mencatat, terompet yang aslinya terbuat dari timah itu mulai populer di era 90-an, dan di tahun 2001 diproduksi secara masal oleh sebuah perusahaan sport dan bahan bakunya diganti dengan plastik.
Sejak itu vuvuzela menjadi atribut standar suporter bola di Afsel. Suporter dua klub terbesar di negara tersebut, Kaizer Chiefs dan Orlando Pirates, misalnya, bahkan membedakan vuvuzela di antara mereka: kuning untuk Chiefs, hitam-putih untuk Pirates.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Stasiun-stasiun televisi Spanyol, misalnya, memprotes keberadaan vuvuzela karena suaranya mengganggu komentar siaran pertandingan. Beberapa pemain top seperti Xabi Alonso bahkan meminta terompet itu dilarang dibawa masuk ke stadion.
Pernah ada permintaan kepada FIFA untuk mencekal vuvuzela, tapi ditolak. Sebagai cara lain, federasi sepakbola Jepang (JFA) baru-baru meminta kebijaksaan otoritas Afsel terkait hal tersebut, setelah kedua negara ber-friendly game di Port Elizabeth hari Sabtu lalu,dengan skor akhir 0-0.
"Kami telah meminta federasi Afrika Selatan untuk meniadakan kebisingan tersebut," demikian presiden JFA, Motoaki Inukai, yang dimuat harian Sankei Sports dan dilansir Reuters, Selasa (17/11/2009).
"Anda bahkan tidak bisa mendengar pembicaraan Anda sendiri. Saya akan mengajukan hal ini (dengan Presiden FIFA Sepp Blatter)," sambungnya.
Gangguan vuvuzela juga dikeluhkan bek "Samurai Biru" berdarah Brasil, Tulio. "Dari dua meter saja Anda sudah tak bisa mendengar apa yang diucapkan rekan setim Anda. Mereka harus diberi pengarahan," cetusnya.
Adapun pelatih Takeshi Okada, saat diminta komentarnya tentang kebisingan itu menjawab pendek, "Mungkin kalau mereka memainkan sepakbola yang baik, fans mungkin akan diam dan menonton saja." (a2s/key)











































