Aljazair ke Afsel Lewat Tensi Tinggi

Aljazair ke Afsel Lewat Tensi Tinggi

- Sepakbola
Kamis, 19 Nov 2009 11:23 WIB
Aljazair ke Afsel Lewat Tensi Tinggi
Khartoum - Bahagia tak terperi dirasakan orang-orang Aljazair yang akhirnya bisa melihat lagi timnya tampil di Piala Dunia. Meski demikian, kelolosan mereka dilalui dengan jalan terjal, bahkan berdarah-darah.

Aljazair memenangi pertandingan playoff-nya melawan Mesir, Kamis (19/11/2009) pagi WIB, dengan skor 1-0. Penantian panjang selama hampir seperempat abad itu telah berakhir. Tim Afrika utara itu dipastikan hadir di Afrika Selatan tahun depan, menambahkan frekuensinya di Piala Dunia menjadi tiga kali setelah Spanyol 1982 dan Meksiko 1986.

Maka tak heran jika keberhasilan itu disambut gegap gempita penuh suka cita oleh seluruh warga Aljazari, termasuk ribuan yang mendatangi ibukota Sudan, Khartoum, tempat di mana Antar Yahia dkk bertarung melawan Mesir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tidak ada kebahagiaan di dunia melebihi yang ini," demikian Farid Nimeiri, seorang juru masak di hotel tempat tim Aljazair menginap diKhartoum, mengekspresikan kegembiraannya, seperti diilansir Reuters.

Duel Aljazair-Mesir dibayang-bayangi insiden berdarah hari Sabtu lalu di Kairo, ketika terjadi bentrokan massal antarsuporter. Sedikitnya 20 fans Aljazair cedera, dan tiga pemain terluka karena bus mereka dilempari orang-orang Mesir.

Untuk menghindari hal serupa, aparat keamanan Sudan mengerahkan belasan ribu petugas. Mereka antara lain menyarakan supaya orang-orang "bule" dan staf PBB tidak berada di dekat stadion Al Merreikh di hari pertandingan, supaya tidak terjebak dalam suasana yang rawan.

Tak cuma suporter Aljazair dan Mesir, aparat juga sempat meredam ribuan fans Sudan yang menunggu para "tamunya" itu di luar stadion. Mereka segera diusir dengan gas airmata.
Β 
Meski demikian, bentrokan tetap terjadi walaupun tidak besar. Pihak rumah sakit melaporkan mereka menangani beberapa suporter yang terluka karena berkelahi sebelum pertandingan. Saat selebrasi Aljazair, sedikitnya lima orang dilaporkan cedera ringan.

Di dalam stadion, fans Aljazair meledek pendukung Mesir dengan poster bertuliskan "Misrael", sebagai sindiran atas sikap politik Mesir yang dianggap dekat dengan Israel. "Bagusnya", suporter Mesir meninggalkan stadion dengan relatif kalem, dan mereka pun mengaku terkejut dan terkesan pada operasi pengamanan dari aparat Sudan.

Bek Aljazair Madjid Bougherra mengatakan timnya telah memenangi "keadilan". Pelatih Rabah Saadane mengungkapkan, dirinya sangat letik tapi bahagia karena misi telah berakhir.

Menteri Penerangan Mesir Anas el-Feki seperti dikutip kantor berita MENA mengatakan, Presiden Hosni Mubarak terus mengikuti perkembangan pasca insiden di Kairo, dan menyiapkan pesawat-pesawat untuk membawa pulang warganya dari Khartoum secepat mungkin.

Sementara itu kubu Aljazair sangat gusar dengan insiden empat hari lalu. Menteri Solidaritas Nasional Djamal Ould Abbes menganggap kejadian itu "tidak bisa diterima dan tidak beradab". "FIFA harus menskorsing Mesir satu-dua tahun dari semua pertandingan," ujarnya. "Keterlaluan, keterlaluan, keterlaluan."

Ketegangan di antara kedua negara terpancar jelas ketika pihak kementerian olahraga Aljazair memandang insiden di Kairo sebagai "sebuah tikaman … untuk dunia Arab".

Di istana kepresiden Sudan, pimpinan federasi sepakbola Aljazair menampik upaya berdamai dari kolega Mesir-nya, dengan cara menolak Samir Zahir yang mencoba menawari sentuhan pipi untuk mencairkan suasana.

Di dalam negeri Aljazair masih diliputi konflik interen antara kalangan Islam dan pemerintah, dan ketegangan itu telah menewaskan ribuan orang. Tentu saja tidak ada jaminan, apakah sukses menembus putaran final Piala Dunia 2010 membuat situasi politik mereda. Tapi bahwa mereka lolos ke Piala Dunia, itu adalah hal lain dan patut disyukuri seluruh warganya. (a2s/krs)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads