Gol kontroversial yang dimaksud terjadi dalam leg kedua playoff antara di Stadion Stade de France, Saint Denis, Kamis (19/11/2009) dinihari WIB, silam. Kala itu Irlandia yang tengah unggul 1-0 akhirnya harus tersingkir akibat gol William Gallas yang didahului handsball Thierry Henry.
Irlandia pun geram. Permohonan diadakannya pertandingan ulang sempat mereka ajukan. Namun demikian, FIFA telah menolak untuk melakukan pertandingan ulang. Sebab, sebagaimana tertulis dengan jelas dalam Laws of the Game, selama pertandingan, keputusan-keputusan diambil oleh wasit dan keputusan-keputusan itu bersifat final.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden FIFA Sepp Blatter pun langsung meminta untuk diadakan pertemuan darurat guna membahas hal ini. Pertemuan itu bakal digelar pada tanggal 2 Desember mendatang di Cape Town, Afrika Selatan.
"Dengan adanya beberapa kejadian dalam dunia sepak bola dalam beberapa waktu terakhir, termasuk insiden dalam playoff Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, pengaturan pertandingan dan iregularitas dalam perjudian sepak bola, presiden FIFA meminta pertemuan darurat dari komite eksekutif," demikian statemen mereka seperti dilansir Reuters.
"Pertemuan darurat tersebut akan dihelat di Capte Town pada 2 Desember 2009," lanjut statemen tersebut.
Selain kasus di atas, yang juga akan dibahas dalam rapat khusus itu adalah ketegangan pasca Aljazair menyingkirkan Mesir di pertandingan playoff. Selain sempat melahirkan bentrokan fisik antarpendukung, perseteruan berlanjut di luar lapangan ketika pemerintah Mesir sampai memanggil pulang duta besarnya di Aljazair.
Kontroversi lain yang akan dibawa ke meja rapat adalah adanya mafia pengaturan pertandingan yang baru-baru ini terbongkar terutama di Jerman. Kelompok itu ditengarai memiliki lebih dari 200 anggota dan terlibat dalam match-fixing di sembilan liga Eropa.
Polisi di Jerman, Inggris, Austria dan Swiss secara simultan melakukan penggerebekan pada hari Kamis lalu, menahan 15 orang di Jerman dan dua di Swiss. Geng ini dituduh menyuap wasit, pemain dan ofisial untuk memenangi setidaknya 10 juta euro. Kasus itu diduga seperti gunung es di lautan, yang hanya tampak luarnya saja, padahal sebenarnya jauh lebih besar.
(roz/din)











































