Keseriusan itu diperlihatkan ketika CEO pencalonan Qatar Hassan Al Thawadi datang ke pertemuan Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) di Kuala Lumpur dan mempromosikan negaranya.
"Piala Dunia nanti akan panas, tapi tidak terlalu panas. Kami tengah mengembangkan teknologi yang akan membantu kami mengatasi panasnya bulan Juni dan Juli," kata Al Thawadi di Reuters.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Australia, Inggris, Indonesia, Jepang, Rusia, Amerika Serikat, Portugal-Spanyol dan Belgia-Belanda akan memperebutkan hak Piala Dunia 2018 dan 2022. Sementara, Qatar dan Korea Selatan akan bertarung untuk PD 2022 saja.
"Kami telah melakukan pengamatan kapan kami bisa menggelar sebuah Piala Dunia yang sangat bersejarah. Di 2018, kami mungkin sudah siap, tapi di 2022 kami bisa menjamin sesuatu yang sangat historis," papar Al Thawadi.
Qatar 'cuma' sebuah negara kecil dengan luas cuma 11 ribu km persegi dan penduduk 1,4 juta orang; bandingkan dengan Indonesia yang luasnya 1,9 juta km persegi dan penduduk 229 juta. Alih-alih memandang sebagai kelemahan, Qatar menganggap kecilnya negara mereka sebagai keuntungan.
"Orang akan dapat tinggal di satu kota saja selama PD. Mereka bisa bepergian ke kota lain untuk nonton pertandingan dan pulang lagi di kota mereka tinggal, tanpa harus cemas soal akomodasi," kata Al Thawadi.
"Menggelar Piala Dunia di Timur Tengah akan membuat semua orang di Timur mau pun Barat bisa datang dan merayakannya di sini," tuntasnya.
(arp/key)










































