Di Ferenc Puskas Stadium, Rabu (25/11/2009) dinihari WIB, David N'Gog membuka asa dengan langsung membuat Liverpool memimpin 1-0 di menit keempat. Skor itu dipertahankan sampai bubar.
Tidak berlanjutnya langkah Liverpool ditentukan ratusan kilometer jauhnya dari Budapest, yakni di Firenze. Di Stadion Artemio Franchi pada saat bersamaan, Fiorentina membekap Lyon 1-0 saja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Benitez benar. Liverpool tidak layak menyalahkan siapa pun kecuali diri mereka sendiri. Kegagalan lolos ke 16 besar cuma jadi puncak dari rentetan penampilan The Reds yang terseok dalam empat laga Liga Champions Grup E.
Di partai pertama menjamu Debrecen, Liverpool dengan tidak meyakinkan cuma menang 1-0. Padahal, Debrecen bisa disebut sebagai tim antah berantah dan di atas kertas 'Si Merah' unggul segalanya.
Kekalahan 0-2 dari Fiorentina di matchday 2 tidak perlu dipertanyakan; Liverpool memang layak mendapatkannya. Tapi kegagalan di dua pertemuan menghadapi Lyon terasa lebih krusial.
Menjamu Lyon di pertemuan pertama, Liverpool unggul duluan sebelum disamakan dan akhirnya kalah karena Lyon mencetak gol di menit terakhir. Di perjumpaan kedua, kembali The Reds memimpin dulu tapi lagi-lagi gol telat memaksa laga itu seri.
Seandainya dan seandainya, itulah yang mungkin ada di pikiran segenap awal Liverpool saat ini. Bila saja mereka tidak kebobolan di saat-saat akhir, bila saja mereka lebih disiplin bertahan. Daftar yang bisa memanjang bila mau dielaborasi.
Alhasil, di sinilah Liverpool saat ini: tersingkir dari Liga Champions dan terbuang ke Europa League. Pencapaian terburuk The Anfield Gank dalam enam tahun alias selama Benitez memegang kendali tim.
"Kami meraih hasil-hasil bagus selama beberapa tahun terakhir, jadi orang berpikir kami akan dengan mudah lolos dari kompetisi mana pun. Mereka berpikir kami bisa melakukannya tiap musim, padahal tidak selalu," demikian Benitez.
(arp/a2s)











































