Sebagai juara Copa Libertadores, Estudiantes punya keuntungan berupa langsung berada di semifinal. Sementara Pohang sebelumnya harus melakoni partai perempatfinal melawan juara Afrika, TP Mazembe.
Dari sisi individu pemainnya, Estudiantes di atas kertas lebih digdaya ketimbang Pohang, juara Liga Champions Asia. Tapi selama bola itu bundar, kejutan tetap saja bisa terjadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Veron, seorang gelandang berpengalaman yang telah memenangi titel-tiel bergengsi di Argentina, Italia, dan Inggris mengaku belum puas akan pencapaiannya. Gelandang 34 tahun itu masih selapar yang dulu.
Selain itu, Veron juga berniat mengekor jejak ayahnya, Juan Ramon Veron, yang pernah menolong Estudiantes menjadi juara dunia saat ajang itu masih bernama Piala Interkontinental tahun 1968 dengan menundukkan Manchester United.
"Kepala saya berusia 34 tahun, tapi kekuatan tubuh saya 20 tahun. Itulah perasaan saya. Saya juga ingin menjejak langkah yang sama seperti ayah saya," tukas Veron.
"Tak ada momen terbaik untuk melakukan banyak hal. Ini adalah momen saya dan saya menikmatinya seperti saat saya masih berusia 20 tahun," kata eks pemain Lazio dan MU itu.
Menghadapi Pohang, Veron dan Estudiantes mengaku tidak melakukan persiapan khusus. Namun melihat makin banyaknya pemain Asia yang berkompetisi di Eropa, Veron tidak mau memandang kekuatan lawan dengan sebelah mata.
"Dengan banyaknya pemain Korea yang bermain di klub besar, hal itu akan menguatkan tim nasionalnya. Mereka adalah sebuah tim dengan gaya tersendiri. Siapa pun yang bermain lebih baik akan menang," tegas Veron.
Duel Pohang kontra Estudiantes bakal digelar di Stadion Mohammed bin Zayed, Abu Dhabi, Selasa (15/12/2009).
(arp/arp)











































