Monaco, Klimaks Tim Kuda Hitam?

Monaco, Klimaks Tim Kuda Hitam?

- Sepakbola
Rabu, 07 Apr 2004 11:08 WIB
Jakarta - AS Monaco menjungkalkan Real Madrid. Inilah kejutan terbesar dalam perhelatan Liga Champions tahun ini. Mungkinkah ini klimaks tim kuda hitam asal Perancis itu?.Monaco membuat kejutan terbesar dalam perhelatan Liga Champions tahun ini, dengan menjungkalkan tim sembilan kali juara, Madrid. Padahal, sebelum pertandingan digelar siapa menyangka kalau tim 'kelas dua' itu mampu menjungkalkan 'sang raksasa'. Namun, dua gol dari Ludovic Giuly (45', 66') dan satu gol dari pemain pinjaman Madrid, Fernando Morientes (48'), sudah cukup untuk mengantar skuad racikan Didier Deschamps itu menuju semifinal untuk pertama kali dalam sejarah klub mereka. Meskipun cukup menyakitkan bagi para penggemar Madrid, namun harus diakui bahwa Monaco memang layak melaju ke semifinal. Pasalnya, tim ini sudah menunjukkan hasil baik di babak-babak sebelumnya. Di babak penyisihan grup, mereka berhasil menjadi juara setelah sempat mencatat sejarah kala menghempaskan Deportivo La Coruna dengan skor telak 8-3. Di babak knock-out pertama, Monaco menyingkirkan Lokomotiv Moscow. Kalah 1-2 di Moscow, mereka mampu mencetak satu gol penting di kandang, dan lolos ke perempat final berkat gol tandang. Ketika undian perempat final mempertemukan tim yang dimiliki oleh Pangeran Ranier itu dengan Madrid, banyak pengamat memperkirakan kalau mereka takkan mampu melewati tim bertabur bintang itu. Apalagi Monaco kalah 4-2 di Santiago Barnebeau, dalam pertemuan leg pertama. Namun, di leg kedua, Monaco benar-benar menjungkirbalikkan prediksi semua pihak. Kemenangan 3-1 sudah cukup untuk menyingkirkan Madrid karena peraturan gol tandang.Melewati dua babak knock-out dengan hasil ngepas (maksudnya menang karena gol tandang) membuktikan bahwa Monaco punya semangat juang tinggi. Kalah satu atau dua gol di kandang lawan, selalu mampu dibalas tuntas di Stade Louis II. Lalu apa rahasia kekuatan Monaco?. Selain memiliki semangat juang, menurut sang arsitek Deschamps, kekuatan mereka ada pada keseimbangan antara penyerangan dan pertahanan. Di depan mereka punya para penyerang haus gol. Dado Prso, Shabani Nonda, Giuly, dan Morientes, punya kaki dan kepala yang mampu dimaksimalkan. Belum lagi dukungan dari lapangan tengah yang begitu bagus diperankan oleh Jerome Rothen. Terbukti, Giuly dan Moro--panggilan Morientes--mampu mempersembahkan tiga gol bersejarah ke gawang Iker Casillas, sedangkan Rothen bermain luar biasa kala bertandang ke Barnebeau dua minggu lalu. Tajam di depan, tak berarti memble di belakang. Tampaknya inilah yang membedakan Monaco dengan tim sebesar Madrid. Sejak kehilangan Fernando Hierro, Madrid tak lagi memiliki pemain seperti Julien Rodriguez, yang mampu menjadi jendral Monaco di belakang. Belum lagi meerka punya Flavio Roma yang tak grogi menghadapi para penyerang tim yang berjuluk Los Galacticos itu. Meskipun melangkah ke babak semifinal dengan hasil luar biasa, Morientes berujar bahwa Monaco harus terus melaju. Jika mungkin meraih gelar Piala Champions yang selama ini 'digilir' tim-tim besar. Kini mereka tinggal dua langkah lagi menuju juara. Namun, sebelum sampai kesana, mereka harus melewati Chelsea di semifinal."Kemenangan ini adalah hasil bersejarah bagi klub, namun kami tak boleh berhenti sampai disini, karena dengan kemampuan kami, kami mampu melaju lebih jauh," ujar pemain yang tersingkir dari Madrid karena kehadiran Ronaldo itu kepada Radio Marca. Ya, mudah-mudahan kemenangan atas Madrid bukan klimaks dari penampilan mereka. Kalau tidak, maka torehan sejarah yang lebih besar lagi (baca: Juara) hanya akan menjadi impian belaka. (mel/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads