Jelang Monaco vs Chelsea
Harga Mati Claudio Ranieri
Selasa, 20 Apr 2004 09:34 WIB
Jakarta - Musim ini segala yang berhubungan dengan Chelsea menjadi semakin populer, termasuk Claudio Ranieri. Sayang, belakangan ia menghadapi ketidakpastian yang berkepanjangan.Diserahi sebuah skuad bernilai ratusan juta poundsterling, kursi pelatih yang diduduki Ranieri seperti ditaruh api di kolongnya: panas. Segila apapun Roman Abramovich pada sepakbola, pengusaha mana yang mau rugi. Dan bagi sebuah klub, salah satu profit terbesar berwujud tropi juara.Abramovich, penggemar bola yang kebetulan kaya luar biasa, sempat berbunga-bunga saat menyaksikan kerajaan mininya berhasil membekap Liverpool di pertandingan pertama dengan skor 2-1. Di pinggir lapangan Ranieri, dengan gayanya menyilangkan kedua tangan di dada, manggut-manggut puas. Pria Italia itu mungkin bukanlah pelatih bergelimang sukses — tak pernah membawa tim-timnya menjuarai liga domestik, baik itu Fiorentina, Valencia, atau Atletico Madrid —, tapi ia adalah seseorang yang mau belajar keras. Datang ke London pada September 2000 dengan bahasa Inggris pas-pasan, musim ini ia sudah menjabarkan taktik-taktiknya dalam tiga bahasa: Inggris, Italia, dan Spanyol.Pada sebuah tim kosmopolitan, kemampuan seperti itu memang sangat berguna. Ia tidak memerlukan penerjemah jika ingin bicara heart to heart dengan Hernan Crespo atau Adrian Mutu yang lama hidup di Italia. Ia juga memudahkan komunikasi dengan Claude Makelele, yang masih kepayahan ngomong bahasa Inggris, lantaran keduanya sama-sama pernah tinggal di Madrid.Sebenarnya grafik Chelsea di Premiership cenderung naik di tangan Ranieri. Setelah dua musim berturut-turut hanya finish di urutan enam (lolos Piala UEFA), musim lalu The Blues ia dongkrak ke zona Liga Champions dengan menempati urutan empat. Musim ini posisi tiga besar bahkan sudah ditangan.Akan tetapi posisi itu memang belum sebanding dengan investasi ratusan juta pounds. Bahwa membentuk tim yang solid dari berbagai karakter pemain bintang itu tidak mudah, orang sering tidak mau tahu. Pokoknya Anda sudah diberi materi lebih dari cukup, lalu bayarlah dengan impas. Maka ketika John Terry cs bergerak lambat, dan permainannya kerap tidak memikat, Abramovich dan Peter Kenyon mulai bermain di belakang. Keduanya mengontaki beberapa pelatih top agar bersiap ngantor di Stamford Bridge. Ranieri, yang kontraknya baru habis pada 2007, jadi tak nyaman dengan nasibnya.Beruntung dia akhirnya memperoleh simpati dari publik The Blues, karena seorang gentleman kurang layak diperlakukan demikian. Ranieri adalah sosok yang apabila kalah tak segan-segan mengakui keunggulan lawan dengan sportif; jika menang ia takkan membiarkan para pemainnya terlalu lama meninggalkan bumi.Itu sebabnya Frank Lampard dan kawan-kawannya selalu membela bosnya itu. Belakangan suporter mereka juga tidak cerewet menuntut ini-itu, tidak seperti Gerard Houllier yang mulai disebali fans Liverpool.Tapi harga mati buat Ranieri adalah membawa timnya menjuarai Liga Champions. Kelihatannya hanya itu yang bisa menyelamatkan karirnya. Ia sadar akan hal itu dan bertekad mengeluarkan kemampuan terbaiknya sebagai seorang arsitek tim.“Pertandingan melawan Monaco adalah yang terpenting dalam hidupku. Ini adalah partai yang amat besar buatku, karena inilah kiprah pertamaku di Liga Champions sekaligus semifinal perdana,” tuturnya.Benar, ini sangat penting buat Ranieri. Bagaimanapun orang melihat tim ini jauh lebih “mahal” ketimbang Monaco, Deportivo La Coruna, dan FC Porto. Tidak itu saja, ia pun memikul tugas sebuah bangsa, karena Chelsea adalah satu-satunya wakil Inggris yang berpeluang membawa tropi Liga Champions ke negara itu, setelah Manchester United pada 1999. (a2s/)











































