Mourinho datang ke Bridge untuk memanajeri Chelsea pada tahun 2004. Curriculum vitaenya kinclong: membawa FC Porto menjadi juara Liga Champions 2004 meski tidak diunggulkan.
Dalam waktu singkat, Mourinho menjadi tokoh yang dicintai, sekaligus dibenci. Dicintai fans Chelsea karena ia bisa menghadirkan dua titel Liga Inggris setelah berpuluh-puluh tahun hampa; dibenci karena sikap dan ucapannya kontroversial dan banyak membuat merah telinga pihak lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk pertama kalinya sejak pergi, Mourinho akan kembali ke The Bridge. Bukan sebagai kawan yang akan reuni, tapi selaku lawan yang akan memimpin Inter meladeni Chelsea di leg 2 perdelapanfinal Liga Champions, Rabu (17/3/2010) dinihari WIB.
Meski mengakui bahwa karirnya yang berusia 2 tahun lebih di Chelsea sebagai saat-saat menyenangkan, Mourinho tak mau dihantui kenangan. Allenatore 47 tahun itu berjanji bersikap profesional.
"Saya akan berada di sana dengan hati saya sepenuhnya untuk kedua tim. Itulah yang dilakukan sebagai profesional," ujar Mourinho menghadapi duel itu seperti dikutip Reuters.
"Saya tak dapat menyembunyikan bahwa Chelsea adalah bagian penting dalam hidup saya," imbuh pelatih yang menciptakan julukan 'The Special One' untuk dirinya sendiri saat di London.
Dalam duel nanti, Mourinho akan duduk ke bangku cadangan tim tamu, hanya beberapa meter di sebelah bangku yang ia duduki kala mengorkestrasi Chelsea jadi kekuatan utama di Inggris beberapa musim lalu.
"Hal baiknya, saya tak harus berjalan jauh. Dari ruang ganti ke bangku cadangan cuma lima meter," katanya.
"Saya tidak harus menyeberangi stadion, saya tak harus merasakan emosi para penonton. Saya cuma akan duduk di sana dan memainkan permainan saya," demikian ucap pria flamboyan itu.
(arp/a2s)











































