Letusan Gunung Berapi Dapat Ganggu Sepakbola

Letusan Gunung Berapi Dapat Ganggu Sepakbola

- Sepakbola
Minggu, 18 Apr 2010 09:15 WIB
Letusan Gunung Berapi Dapat Ganggu Sepakbola
Jakarta - Awan debu yang keluar dari letusan Gunung Eyjafjallajokull di Islandia turut berdampak ke sepakbola. Sejumlah tim terancam tidak bisa terbang akibat tebalnya awan debu itu.

Sejak Rabu (14/4/2010), Eyjafjallajokull meletus. Akibat letusan itu, awan debu pun menyelimuti langit Eropa. Akibatnya, ribuan penerbangan di benua biru jadi ditunda atau batal.

Sialnya, tengah pekan ini Eropa punya agenda sepakbola penting. Leg 1 semifinal Liga Champions akan digelar pada Selasa (20/4) dan Rabu (21/4), sementara semifinal Europa League digelar Kamis (22/4).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan gangguan awan debu serta aktivitas Eyjafjallajokull yang tampak belum mereda, dikhawatirkan tim-tim yang harus bermain tandang tidak bisa melakukan perjalanan.

Sebagai catatan, di Liga Champions, Barcelona harus melawat ke Milan untuk bersua Inter Milan dan Lyon harus terbang ke Munich untuk menjumpai Bayern Munich.

Di Europa League, Liverpool harus terbang ke Madrid karena dijadwalkan berduel dengan Atletico Madrid dan Fulham mesti berkunjung ke Hamburg untuk meladeni Hamburg SV.

Manajer Fulham Roy Hodgson mengaku sudah mengontak UEFA untuk membicarakan situasi yang pelik ini. Bila tidak dimungkinkan terbang, banyak tim yang mungkin harus menempuh jalan darat dengan bus atau kereta api.

"Salah satu perhatian UEFA adalah keadilan apabila ada lawan yang tidak mungkin menempuh bahaya untuk bertanding. Skenario idealnya, debu vulkanik itu akan reda dan kami bisa terbang ke Jerman," kata Hodgson di AP.

"Tapi semua tergantung apabila ada penerbangan. Jika tidak ada, maka opsi yang ada tinggal memakai kereta api dan bus ke Hamburg. Masalah berikutnya timbul karena mungkin tidak ada kereta api dan bus. Tapi saya yakin UEFA akan memecahkan masalah ini," yakin Hodgson.

Foto: Olympique Lyon, haruskah mereka melawat ke Munich dengan kereta api dan bus? (Foto: Reuters)


(arp/arp)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads