Debu vulkanis akibat letusan Gunung Eyjafjallajokull di Islandia melahirkan larangan penerbangan di Eropa karena alasan keamanan. Hal ini turut berimbas ke laga Liga Champions. Lyon yang di leg I ini menjadi tim tamu di Allianz Arena markas Bayern Munich pun harus menempuh jalan darat.
Dengan menggunakan sepuluh minibus, sebagaimana dilansir situs Bayern, kubu Lyon pertama-tama singgah dulu ke Stuttgart yang menurut wolframalpha berjarak 292,9 mil atau 470 km dari Lyon. Perjalanan memakan waktu tujuh setengah jam, di mana serangkaian kemacetan lalu lintas ikut mewarnai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami tiba di Munich disambut matahari di langit dan dengan senyum di bibir kami. Kami sangat bersemangat menghadapi laga ini. Berpikir positif saja. Ini adalah masalah mental belaka. Kami sudah mengatasi banyak kendala dan perjalanan tadi tak membosankan kok. Kini kami siap untuk bermain," ceplos kiper Lyon Hugo Lloris.
"Ini bukan kali pertama di pekan ini kami harus melakukan lawatan. Kami menghabiskan sepanjang malam di bus setelah bermain lawan Bordeaux. Kami juga jadi tahu daerah pedesaan di Jerman," sambung pelatih Lyon Claude Puel.
Semangat Lyon boleh jadi didasarkan pada kenyataan bahwa inilah semifinal pertama mereka, setelah sebelumnya hanya bisa tiga kali menembus perempatfinal saja. Tapi empat besar yang kini dijejak pun belum bikin puas karena Lyon membidik lebih tinggi: Final Liga Champions di Santiago Bernabeu.
"Kenapa laju kami harus terhenti di semifinal?" seru Puel.
Untuk bisa melakukannya, Lyon jelas harus bisa mengatasi Arjen Robben cs dulu di Allianz Arena, Kamis (22/4/2010) dinihari WIB, dan kemudian melengkapinya dengan hasil positif lain di leg II pekan depan.
(krs/a2s)











































