Usaha Qatar dalam mengajukan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 banyak dinilai sebagai usaha gembar-gembor saja, karena suhu di Qatar pada musim panas bisa mencapai 50 derajat.
Dengan tingginya suhu tersebut maka Qatar pun dinilai tidak realistis jika ingin menyelenggarakan perhelatan semacam Piala Dunia yang jelas dilangsungkan saat musim panas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di atap-atap stadion nantinya akan diletakkan pengumpul panas Matahari untuk mengumpulkan energi. Pada hari pertandingan, energi ini pada prosesnya akandikonversi jadi udara dingin yang didistribusikan ke seluruh stadion dan lapangan melalui rongga di bawah kursi.
"Puncak penampilan seorang pemain biasanya dicapai pada suhu 24 sampai 29 derajat celcius dan kami bisa menjamin suhu 29 derajat di atas lapangan," janji Sheikh Mohammed bin Hamad bin Khalifa al-Thani, putra Emir Qatar, seperti dikutip Reuters.
"Sudah saatnya Piala Dunia singgah ke Timur Tengah. Jika datang, ajang olahraga global sekaliber ini akan memberikan denyut kehidupan untuk area sekitarnya," lanjut dia.
FIFA sendiri baru akan menentukan siapa yang berhak jadi tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022 pada bulan Desember mendatang. Australia, Inggris, Jepang, Belanda/Belgia, Rusia, Spanyol/Portugal dan AS mengajukan diri untuk tahun 2018 atau 2022, sementara Qatar dan Korea Selatan hanya untuk tahun 2022 saja.
(krs/roz)










































