Gelandang Bayern Munich itu merasakan tangan dingin Mourinho kala bermain untuk Chelsea. Tiga tahun menjadi anak asuh Mourinho, Robben memutuskan hengkang ke Real Madrid, sebelum akhirnya menjadi pemain Bayern pada awal musim ini.
Ia pun berjodoh lagi dengan Mourinho, meski kali ini keduanya berseberangan. The Special One bersama Inter Milan-nya akan berusaha untuk mematikan Robben dan Bayern pada final Liga Champions, 22 Mei mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya menikmati masa-masa dengannya di Chelsea. Kami memenangi semua trofi yang bisa dimenangi di Inggris serta mencetak sejarah dengan menjuarai liga untuk pertama kalinya dalam 50 tahun."
"Jadi, ya, saya mendapatkan pengalaman berharga darinya dan saya senang melihatnya," tukas Robben.
Sementara, bagaimana dengan Van Gaal? Pemain berusia 26 tahun ini menyebut bahwa permainannya banyak berkembang di bawah asuhan Van Gaal. Sedikit banyak, perkembangan itu terbantu lantaran keduanya berasal dari Belanda.
"Ini adalah cara bekerja orang Belanda, jadi bagi saya itu lebih mudah ketimbang pemain-pemain lainnya yang berasal dari Jerman. Bagi kami, yang terpenting darinya adalah bagaimana ia memberitahu hal tepat apa yang harus kami lakukan di lapangan."
"Saat ini permainan berlangsung dengan cepat dan kami harus membuat keputusan dengan cepat. Dan begitulah caranya membantu kami: untuk membuat keputusan yang tepat, kapan harus mendribel, kapan harus mengoper."
"Keduanya sangat bagus dalam mempersiapkan tim. Secara mental, mereka juga sangat bagus. Mereka bisa mempersiapkan tim pemenang dan menciptakan tim pemenang," tuntas Robben.
(roz/roz)











































