Italia pertama yang tampil dalam final yang digelar di Bernabeu adalah Fiorentina, pada final tahun 1957. La Viola yang dipimpin manajer Fulvio Bernardini tampil menghadapi si empunya stadion, Real Madrid, yang kala itu diperkuat oleh Alfredo Di Stefano.
Di Stefano, dalam wawancaranya dengan situs resmi UEFA, menyebut bahwa Fiorentina menerapkan taktik permainan bertahan kala itu. Dan Madrid pun kesulitan untuk menembusnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemenangan Madrid dilengkapi dengan gol Francisco Gento di menit 75. Los Blancos memenangi final ini dengan skor 2-0 dan meraih gelar Liga Champions (dulu bernama Piala Champions) yang kedua.
Dua belas tahun berselang, giliran AC Milan yang tampil. Namun, berbeda dengan Fiorentina, Milan sukses meraih kemenangan. Rossoneri membekap Ajax Amsterdam, yang kala itu dipimpin Rinus Michels, dengan skor 4-1.
Pierino Prati sudah membawa Milan unggul kala pertandingan baru berusia tujuh menit. Ia kemudian menambah satu gol lagi di menit 40, menjadikan Milan menutup babak pertama dengan skor 2-0.
Ajax sempat memperkecil ketertinggalan menjadi 2-1 setelah Velibor Vasovic membobol jala Fabio Cudicini di menit 60. Namun, Milan membungkam Ajax dengan dua gol lagi, yakni kembali melalui Angelo Sormani di menit 67 dan kembali melalui Prati di menit 75.
Lalu, bagaimana dengan musim ini? Inter Milan adalah wakil Italia kali ini. Mereka akan bertarung melawan wakil Jerman, Bayern Munich, dalam laga yang juga menjadi pertaruhan untuk meraih gelar treble winners.
Pertanyaannya, bakal seperti siapa nasib Inter? Akan seperti Fiorentina-kah atau mengikuti sukses Milan? Semua baru akan terjawab pada 22 Mei nanti.
(roz/arp)











































