Β
Hittzfeld dan Happel adalah dua pelatih yang tercatat pernah menjuarai Liga Champions (dulu bernama Piala Champions) dengan dua klub berbeda. Akhir pekan ini, catatan keduanya bakal ketambahan satu nama lagi, entah itu Mourinho atau van Gaal.
Mari bicara soal Hitzfeld dulu. Pelatih yang kini menangani timnas Swiss itu pertama kali mengangkat trofi juara Liga Champions bersama Borussia Dortmund di tahun 1997. Kala itu, Dortmund keluar sebagai juara usai menjungkalkan Juventus 3-1.
Hitzfeld sempat melangkah ke final lagi dua tahun kemudian. Namun, kali ini dengan tim yang berbeda; Bayern Munich. Sial baginya, Die Roten takluk 1-2 di tangan Manchester United dalam final yang dihelat di Stadion Camp Nou.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu, bagaimana dengan cerita Happel? Pelatih yang wafat tahun 1992 ini meraih gelar pertamanya di tahun 1970. Kala itu, dengan memimpin Feyenoord, Happel menjadi kampiun berkat kemenangan 2-1 atas Glasgow Celtic.
Mirip seperti Hittzfeld, ia kemudian tampil lagi di final namun kalah. Happel memimpin Club Brugge sampai ke final di tahun 1978, tetapi harus menelan pil pahit setelah dibungkam Liverpool 0-1.
Happel merasakan trofi keduanya pada tahun 1983. Kali ini dengan melatih Hamburg SV, ia menaklukkan Juventus dengan skor tipis 1-0.
Akhir pekan ini, Mourinho dan Van Gaal berpeluang untuk menorehkan catatan yang sama. Mourinho pernah menjadi juara bersama FC Porto di tahun 2004, sementara Van Gaal pernah menjadi juara bersama Ajax Amsterdam di tahun 1995.
Di antara keduanya, Van Gaal memiliki cerita yang paling mirip dengan Hitzfeld dan Happel. Usai menjadi juara di tahun 1995, ia kembali mengantarkan Ajax ke final di tahun 1996. Namun, kala itu ia harus melihat timnya ditaklukkan Juventus 0-1.
Toh demikian, semua catatan di atas tampaknya tak terlalu berarti untuk Mourinho. Pria asal Portugal ini memiliki optimisme tinggi bahwa dirinya bisa menorehkan catatan seperti Hitzfeld dan Happel akhir pekan ini.
"Anda tahu, cepat atau lambat saya akan masuk grup itu. Saya adalah pelatih muda (berusia 47 tahun). Saya harap, saya masih memiliki waktu 20 tahun lagi untuk melatih," ujarnya di situs resmi UEFA.
"Jadi, cepat atau lambat saya akan berada di dalam grup itu. Tetapi, saya memilih untuk masuk ke sana dalam beberapa pekan ke depan ketimbang beberapa tahun ke depan," tukasnya.
(roz/a2s)











































