Menguji Daya Tahan Bayern

Jelang Final Liga Champions

Menguji Daya Tahan Bayern

- Sepakbola
Kamis, 20 Mei 2010 13:03 WIB
Menguji Daya Tahan Bayern
Jakarta - Inter boleh sedikit lebih diunggulkan untuk memenangi final Liga Champions tahun ini. Tapi Bayern Munich punya modal nonteknis yang bisa menghancurkan prediksi itu: rekor head to head dan spirit Jerman.

Selama ini baru empat kali kedua tim bertemu di kejuaraan Eropa. Dua yang pertama di Piala UEFA, dua yang terakhir di Liga Champions. Hasilnya, Bayern masih unggul tipis: menang dua kali, seri sekali, kalah sekali.

Inter memenangi pertarungan pertama mereka, di putaran ketiga Piala UEFA, 23 November 1988. Bermain sebagai tim tamu, klub Italia itu unggul 2-0 lewat gol-gol striker Aldo Serena (menit 60) dan gelandang Nicola Berti (71).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dua pekan kemudian giliran Bayern yang bertandang. Dalam posisi tertinggal dan di bawah tekanan suporter tuan rumah, mereka tampil luar biasa. Anak-anak Jerman berhasil mencetak tiga gol dalam selang tujuh menit melalui Roland Wohlfarth (33), Klaus Augenthaler (37) and Juergen Wegmann (40).

Walaupun Serena membuat gol untuk Inter sebelum turun minum, tapi Bayern Munich tetap menang dengan skor 3-1, dan lolos dengan keunggulan gol tandang secara agregat. Pertandingan itu disebut-sebut sebagai salah satu momen comeback terhebat dalam sejarah pertandingan sepakbola. Waktu Bayern dilatih Jupp Heynckes, Inter ditukangi Giovanni Trapattoni.

Perjumpaan ketiga terjadi di babak grup Liga Champions 2006/2007. Inter diasuh Roberto Mancini, Bayern dibesut Felix Magath.

Pada 27 September 2006 Bayern kembali mengalahkan Inter di Giuseppe Meazza, kali itu dengan dengan skor 2-0. Kedua gol itu tercipta di sepuluh menit terakhir, dari Claudio Pizarro (81) dan Lukas Podolski (91). Inter bermain dengan sembilan orang setelah Zlatan Ibrahimovic dan Fabio Grosso dikartumerah di babak kedua.

Kemudian, pada 5 Desember 2006, Inter mencoba melakukan pembalasan di Olimpiastadion.Β  Alih-alih demikian, mereka malah kebobolan lebih dulu oleh gol Roy Makaar di menit 62. Beruntung Patrick Vieira bisa menghindarkan mereka dari kekalahan melalui gol balasannya di masa injury time.

Selain rekor head-to-head di atas, yang perlu diwaspadai Inter adalah sifat "kejermanan" Bayern yang dikenal seperti mesin diesel alias "telat panas". Mark van Bommel dkk telah membuktikan di musim ini bahwa untuk meladeni mereka haruslah sampai peluit panjang dibunyikan wasit. Bayern adalah sebuah tim yang sangat alot.

Di fase grup The Bavarians baru memastikan lolos sebagai runner-up di partai terakhir setelah menang 4-1 dalam lawatan ke markas Juve, kendati mereka lebih dulu kebobolan.

Di fase selanjutnya, Bayern juga lolos dari lubang jarum usai menang 3-2 atas Fiorentina di leg II setelah, lagi-lagi, ketinggalan lebih dulu. Bayern lolos dengan agregat 4-4.

Pun demikian halnya di semifinal. Menang 2-1 di leg pertama di Allianz Arena, Bayern sempat terancam tersingkir setelah tertinggal 0-3 dari Manchester United di leg kedua di Old Trafford. Tapi apa yang terjadi kemudian? Ivica Olic dan Arjen Robben menyumbang gol krusial untuk Bayern, dan MU hanya menang 3-2, dan itu tidak cukup untuk menahan laju Bayern ke final.
(a2s/roz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads