Ada Kecemasan di Balik Pesta Inter

- Sepakbola
Minggu, 23 Mei 2010 07:00 WIB
Madrid - Inter Milan memang pantas untuk berpesta. Treble winners mereka rengkuh pada musim ini. Meski begitu tetap ada sedikit kecemasan di balik kemeriahan pesta tersebut.

Inter memastikan meraih treble usai merebut gelar juara Liga Champions. Trofi Eropa ini sekaligus mengakhiri puasa gelar di kompetisi itu, yang dialami Inter selama hampir setengah abad.

Nerazzuri pantas berpesta. Mereka sudah berusaha keras, melakukan yang terbaik, berkorban banyak hal, demi mencapai prestasi gemilang ini.

Namun di balik kegembiraan itu, terselip sedikit rasa cemas akan perginya aktor utama yang membidani prestasi La Beneamata: Jose Mourinho.

"Saya ingin menjadi satu-satunya pelatih yang memenangkan gelar Liga Champions bersama tiga klub berbeda," ujar Mourinho seperti dikutip dari Times Online. Saat ini arsitek asal Portugal itu baru "sebatas" menyamai Ernst Happel dan Ottmar Hitzfeld yang berhasil menjuarai Piala/Liga Champions ketika menangani dua klub berbeda.

"Ketika saya menang, saya tidak ingin berhenti dan di Italia saya sudah memenangi segalanya. Saya sudah memenangi Liga Champions dengan dua klub dan saya yakin bisa melakukannya bersama tiga klub," ujar pria Portugal yang sebelumnya membawa FC Porto juara Liga Champions itu.

Selain ambisi pribadi, Mourinho juga mengaku tidak nyaman dengan kondisi di Italia. Di musim ini, The Special One beberapa kali dikenai sanksi akibat ucapannya. Terakhir, ketika ia dihukum akibat menunjukkan bahasa tubuh seperti layaknya orang diborgol. Sejak itu eks manajer Chelsea tersebut memilih untuk puasa bicara di Seri A.

"Banyak hal di Italia yang saya tidak suka dan dalam tiga-empat bulan terakhir saya berpikir untuk hengkang," lugasnya.

"Saya tidak meninggalkan Inter, tapi saya meninggalkan sepakbola Italia. Para pemain Inter sudah memberikan saya kepuasan luar biasa dan Inter bakal selalu ada di hati saya."

"Saya gembira ada di Seri A karena kemampuan saya terus berkembang di sini. Namun yang terpenting bagi Inter adalah mereka tetap dipimpin presiden (Massimo Moratti) dan pemain luar biasa sekelas Javier Zanetti dan Diego Milito," ujar Mourinho.

Seandainya pelatih yang dikontrak Inter hingga tahun depan itu benar-benar hengkang, manakah klub yang akan menjadi pelabuhan selanjutnya? "Hanya Real Madrid yang tertarik bagi saya, namun saya belum bicara dengan siapa pun soal hal ini dan belum menandatangani kesepakatan apa pun. Saya berjanji saya akan bicara setelah final," jawab pelatih berusia 47 tahun itu.

Firasat bakal kehilangan sang sosok spesial bisa jadi sudah mulai dirasakan baik oleh Inter mau pun Interisti.

"Forza Inter, Forza Mourinho, jangan tinggalkan (tim) nomor satu-mu ini," teriak sejumlah fans yang berkumpul di Milan untuk berpesta, seperti diberitakan Reuters.

"Mourinho, kami akan menanggung tiketmu untuk pulang," demikian tulisan yang tertulis dalam salah satu spanduk yang dibentangkan.

"Mari kita menikmati pesta juara ini, dan mari kita sama-sama berharap bahwa Mourinho bakal tetap tinggal di sini sehingga kami bisa memenanginya lagi," timpal striker Inter Goran Pandev di situs resmi klub.

Semua menunggu keputusanmu, Mou. (nar/mrp)