Stop Salahkan Pelatih, Perbaiki Akar Rumput

Stop Salahkan Pelatih, Perbaiki Akar Rumput

- Sepakbola
Sabtu, 17 Jul 2010 19:20 WIB
Stop Salahkan Pelatih, Perbaiki Akar Rumput
Wolfsburg - Mantan pelatih Inggris Steve McClaren meminta agar publik Inggris tidak hanya menyalahkan pelatih terkait prestasi timnas. Ia berharap faktor pembinaan akar rumput juga diperhitungkan.

McClaren merupakan arsitek The Three Lions tahun 2006-2007. Ia dipecat usai gagal meloloskan Inggris ke Piala Eropa 2008. Kegagalan itu membuat pelatih kelahiran 3 Mei 1961 tersebut banjir tekanan.

McClaren bukanlah satu-satunya arsitek Inggris yang mendapatkan kecaman selama bertugas. Kondisi banyaknya tekanan dan kecaman ini, dinilai sebagai salah satu hal yang membuat Inggris gagal berprestasi maksimal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya dan Sven Goran Eriksson pernah "difitnah". Saya membangun reputasi dan, sial bagi saya karena semua yang usaha saya hancur dalam satu malam saja," tukas McClaren seperti dikutip dari situs FIFA.

"Sebelum saya, Kevin Keegan, Glenn Hoddle, dan Graham Taylor mengalami hal yang sama. Sudah banyak pelatih Inggris yang menjadi bahan ledekan," lanjutnya.Β 

"Menurut saya, ini saatnya bagi publik Inggris untuk memperluas pemikiran dan pandangna, tidak hanya berfokus pada satu orang saja. Tidak lagi berpikiran: dia adalah bos-nya, jadi semua adalah kesalahan dia dan itu berarti dia harus dicopot," kata eks manajer Middlesborough itu.

McClaren berharap publik Inggris belajar dari Belanda dan Jerman yang bisa lebih sabar dalam bersikap terhadap pelatih tim nasional. Selain itu pria yang musim depan menangani Wolfsburg tersebut juga berharap agar faktor pemain juga menjadi dasar pertimbangan publik sebelum men-judge.

"Dalam pengalaman saya, Belanda dan kini Jerman, mereka memiliki pengalaman yang sama soal kegagalan. Namun mereka tidak hanya berkonsentrasi memperbaiki di posisi-posisi tertas tapi juga dalam level akar rumput dan melakukan perubahan."

"Mari kita lihat hal lain. Mengapa Inggris tidak bisa mengembangkan pemain muda seperti Belanda, Jerman, dan Spanyol?"

"Saya sudah melihat perbedaan setelah melatih di sejumlah negara di Eropa, bekerja di Belanda dan Jerman. Kedua negara itu mengembangkan sepakbola dari level akar rumput," kata pria yang pernah menangani FC Twente itu.

"Dari situ, mereka selanjutnya memiliki pemain berbakat. Mereka juga mengembangkan kepelatihan, jadi mereka melakukan pengembangan dengan tepat," pungkas McClaren.
(nar/nar)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads