Masa depan Maradona di timnas Argentina sudah jadi spekulasi semenjak berakhirnya gelaran Piala Dunia 2010, di mana Argentina angkat koper usai dikalahkan Jerman di perempatfinal.
Federasi sepakbola Argentina (AFA) akhirnya melepas Maradona dari jabatannya pada hari Rabu (28/7/2010) dinihari WIB. Keputusan tersebut dihasilkan lewat pemungutan suara dengan hasil bulat untuk tak lagi memperpanjang kontraknya, sebagaimana diterangkan oleh juru bicara AFA.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia adalah figur yang ikonik. Dia pantas mendapatkan perpisahan yang lebih baik," ujar Federico Garcia, pria berusia 33 tahun yang bekerja sebagai retailer, kepada Reuters.
"Di sini, di Argentina, kami cinta Maradona. Saya pikir, AFA menendangnya dengan cara yang salah," lanjut Garcia.
"Pekerjaannya sebagai pelatih tak buruk. Kami belum pernah melangkah lebih jauh dari perempatfinal sejak 1990. Jadi, saya pikir dia tak bekerja lebih buruk dari yang sebelumnya, apalagi tim dalam kondisi terpuruk ketika ia mengambil alih," ucap Claudio Yago (54) yang sehari-harinya bekerja di stand penjual koran.
Sementara, orang yang benar-benar pendukung Diego Maradona berujar bahwa seburuk apa pun dia tidaklah penting. Sebab, di Argentina sana dia sudah seperti dewa.
"Sebagai pelatih, dia banyak memiliki kekurangan. Tapi, itu tak penting karena dia adalah 'El Diego'," tukas Simon Lampa, seorang konsultan untuk perusahaan energi.
"Saya tahu ada banyak pelatih yang lebih baik darinya di Argentina. Tapi, siapa peduli? Di sini dia adalah idola. Dia memberikan inspirasi untuk tim," tutup Lampa. (roz/din)











































