Sejauh ini kompetisi sepakbola di Jerman memang masih kalah gemerlap dibanding Liga Spanyol, Liga Inggris, atau Liga Italia. Memang tidak banyak pemain bintang dunia yang bermain di Bundesliga.
Meski begitu Jerman juga layak untuk bangga karena mereka menjadi tempat di mana bintang-bintang dilahirkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Thomas Mueller, Mesut Ozil, Sami Khedira, Jerome Boateng, Holger Badstuber dan Manuel Neuer, adalah contoh dari para youngsters tersebut. Pemain muda identik dengan mental yang masih naik turun serta minim pengalaman. Namun Mueller dkk. membuktikan diri mampu menghadirkan gelar juara ketiga kepada negara yang beribukota di Berlin itu.
Pembinaan pemain muda yang terstruktur dan teratur merupakan kunci sukses Jerman sejauh ini. "Perlunya mewajibkan klub memiliki akademi dengan sistem latihan yang seragam semakin mendesak pasca kegagalan Jerman di Piala Dunia 1998 dan Euro 200. Kami harus melakukan sesuatu agar kami tak mendapatkan hasil seperti itu lagi," ujar Reinhard Rauball, presiden dari liga Jerman (DFL) yang membawahi Bundesliga dan Bundesliga 2, seperti dikutip dari Reuters.
Sejak Juli 2002, klub-klub di Bundesliga dan Bundesliga 2 diwajibkan untuk memiliki akademi pembinaan pemain muda untuk mendapatkan lisensi. Sejak itu lebih dari setengah miliar euro telah dialokasikan untuk mengembangkan akademi. Ada pun musim lalu biaya tersebut mencatat angka sebesar 83 juta euro.
"Ya mungkin itu memang harga yang mahal, tapi ini jalan yang tepat," ujar Rauball.
Setiap akademi diwajibkan memenuhi persyaratan seperti harus memiliki lapangan yang memiliki lampu yang bisa digunakan untuk pertandingan malam, pelatih dan pemandu bakat yang bonafid, dan juga memiliki filosfi yang pasti dan jelas.
"Kami bermain dengan sistem 4-2-3-1 atau 4-3-3. Ini merupakan dasar dari sepakbola menyerang dan selalu maju. Ini merupakan sistem yang sangat populer di sini dan bisa dimodifikasi menjadi skema lain," tandas Lars Ricken, koordinator akademi pemain muda Borussia Dortmund.
Dengan adanya persyaratan tersebut, maka tidak heran bila meski materi pemain timnas masih muda dan minim pengalaman internasional namun mereka bisa menerapkan dengan baik pola permainan yang diinginkan pelatih.
Jerman telah memetik hasil dari pembinaan pemain muda di klub. Tiga tahun lalu, 88 pemain yang berlaga di Bundesliga merupakan produk akademi. Sedang untuk musim lalu, jumlahnya naik menjadi 110 pemain.
Jerman bisa menerima kenyataan apabila kompetisi domestik mereka bukanlah yang paling gemerlap di Benua Biru. Meski begitu mereka tetap akan berjalan dengan caranya sendiri, sebuah cara yang telah menghasilkan manfaat cukup besar bagi tim nasional, yang merupakan muara dari suatu kompetisi.
"Bagi kami, aspek olahraga adalah inti dari semuanya dan bukan yang lain. Sistem ini merupakan salah satu penemuan yang telah diciptakan oleh persepakbolaan Jerman. Kami tidak memikirkan apa yang dilakukan liga di negara lain. Kami berjalan dengan cara kami sendiri," tukas CEO DFL Christian Seifert.
Sistem ini juga memberikan keuntungan secara finansial bagi Bundesliga. "Kita berada di dunia industri di mana kami juga harus berpikir efek jangka panjang dari keputusan yang diambil saat ini. Kami tidak bisa hanya memikirkan kesepakatan besar yang ada di depan mata. Kami harus melakukan segala hal guna menjaga agar roda terus berputar untuk tahun depan, dua tahun ke depan, dan seterusnya," tutup Seifert.
(nar/roz)











































