Di musim 2008/2009 Cluj melakoni debutnya di kompetisi kasta tertinggi Eropa itu dengan bertanding di Stadio Olimpico. Hasilnya mengejutkan, sampai-sampai mereka menganggapnya sebagai "mimpi". Klub Rumania itu menang 2-1. Tertinggal lebih dulu oleh gol Christian Panucci, Cluj membalikkan keadaan melalui gol Juan Culio di masing-masing babak.
Seusai pertandingan, di saat para pemain Cluj larut dalam ketakjuban pada pencapaiannya sendiri, Roma "berkabung". Pelatih kala itu, Luciano Spalletti, sampai "mengurung" skuadnya di dressing room selama satu jam lebih. Mereka juga menghindari dari kejaran pers.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Takdir membawaku bermain di Stadion Olimpico di Roma lagi," tukas Culio, gelandang 27 tahun asal Argentina.
"Apa yang terjadi dua tahun lalu adalah sebuah mimpi, dan aku sangat bahagia bahwa apa yang telah aku dan timku lalukan di pertandingan itu masih teringat oleh banyak orang. Aku yakin tim kami lebih tangguh dan berpengalaman dibanding 2008. Kami akan bisa tampil, paling tidak, sama baiknya."
Kapten Cadu mengamini semangat rekannya itu. Dengan pengalaman individunya mengikuti dua Liga Champions dan satu Liga Europa, bek asal Portugal itu bertekad membawa Cluj lebih berhasil.
"Ambisi dan target kami semakin tinggi dan tinggi. Kami lebih kuat dan lebih baik dibanding dua tahun lalu. Dan sekarang kamu punya kesempatan untuk membuktikan bahwa pencapaian kami di tahun 2008 bukanlah kebetulan," ujarnya.
Cluj mengawali kiprahnya di musim ini dengan mengalahkan FC Basel 2-1 di kandang sendiri. Sebaliknya, Roma menelan kekalahan 0-2 dari Bayern Munich di Allianz Arena.
"Tim yang belum pernah main di Liga Champions punya keinginan, determinasi dan motivasi yang sangat besar. Kalaupun Anda punya kualitas teknik lebih banyak, atau bermain di liga yang lebih besar, jurang itu semakin mengecil," aku pelatih Roma Claudio Ranieri, seperti dikutip situs resmi UEFA.
(a2s/arp)











































