Dari segi prestasi, Ajax merupakan klub elit. Ini ditandakan dengan adanya badge of honour yang menempel pada lengan seragam mereka, perlambang mereka sudah menjuarai Liga Champions tiga kali berturut-turut, atau lima secara total.
Ajax sendiri memiliki empat gelar Liga Champions, tiga di antaranya diraih berturut-turut tahun 1971, 1972, dan 1973. Satu lagi didapatkan tahun 1995.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun kepergian Van Gaal yang juga diikuti oleh kepergian para pemain tim juara membuat kekuatan Ajax menurun. Sejak itu mereka tidak lagi mengukir prestasi di kancah Eropa. Bukan hanya itu, nama Ajax juga seakan 'menghilang' dari percaturan Benua Biru.
Musim ini menjadi momen bagi tim ibukota Belanda itu untuk kembali ke tahta-nya. "Kami ingin bisa kembali muncul di kancah Eropa. Kami yakin akan itu," tegas bek Jan Verthongen di situs resmi klub.
Matchday pertama Liga Champions musim ini berlangsung negatif bagi tim yang bermarkas di Amsterdam ArenA itu. Ajax takluk 0-2 dari Real Madrid, salah satu tim yang juga termasuk 'kalangan elit' Eropa.
Meski begitu Ajax sudah belajar dari kekalahan melawan Los Galacticos. Hal tersebut menjadi modal bagi laga menghadapi AC Milan yang juga penyandang badge of honour.
"Secara ofensif, Milan setara dengan Real Madrid. Kami harus lebih baik lagi dalam bertahan. Kami juga harus tampil lebih baik dibanding saat melawan Madrid. Dengan begitu alur bola akan mampu kami kendalikan," lugas pelatih Martin Jol.
(nar/a2s)











































