Penggunaan teknologi garis gawang kembali mencuat, utamanya setelah insiden dianulirnya gol pemain Inggris Frank Lampard ke gawang Jerman di Piala Dunia 2010. Ketika itu tayangan ulang menunjukkan bola sudah melewati garis gawang namun wasit tak mengesahkannya.
Platini merupakan salah satu sosok yang menolak penggunaan teknologi garis gawang. "Bila itu digunakan, maka kita akan mendapatkan sepakbola layaknya permainan game Playstation," ujar presiden UEFA itu di Guardian.
Untuk kompetisi Eropa musim ini, UEFA menugaskan hakim garis tambahan yang berada di belakang gawang masing-masing tim. "Satu wasit memang tidak cukup, tidak juga di era modern di mana kita memiliki 20 kamera. Situasinya tidak adil karena kamera bisa melihat segala kejadian sementara wasit cuma memiliki sepasang mata. Setiap wasit melakukan kesalahan, maka kamera akan fokus kepadanya," kata Platini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka (wasit) akan membuat kesalahan dan untuk menjadi seorang wasit Anda harus siap menderita. Sistemnya memang buruk dan saya sudah tahu soal ini sejak 40 tahun terakhir."
"Wasit harus dibantu oleh klub, suporter, pemain, media, dan otoritas sepakbola---masing-masing dari mereka punya tanggung jawab. Itu sebabnya kami menambahkan dua asisten wasit untuk laga Liga Champions musim ini."
"Tindakan ini merupakan langakh logis dengan begitu banyak kamera yang bisa menangkap insiden yang terjadi di lapangan, maka dengan lebih banyak mata yang bisa membantu wasit, maka ini merupakan kesempatan yang baik untuk bisa menangkap kejadian-kejadian yang ada," tutup Platini.
(nar/nar)











































