Pekan lalu FIFA memilih Rusia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018 dan Qatar untuk edisi tahun 2022. Terpilihnya dua negara tersebut menjadi kejutan karena sebelumnya Inggris dan Amerika Serikat dianggap sebagai salah satu kandidat terkuat untuk dua penyelenggaraan itu.
Adalah Inggris yang kemudian terang-terangan menyatakan kekecewaan atas hasil tersebut. Beberapa pesepakbola yang ditunjuk sebagai duta pencalonan tuan rumah menyatakan kekecewaannya, sementara media-media di negara tersebut juga banyak yang mempertanyakan penunjukan Rusia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang beberapa dari mereka menunjukkan kalau dirinya adalah pecundang yang buruk. Setelah itu semua Anda tak bisa bilang ini dan itu soal janji untuk memilih Inggris. Hasilnya kita tahu. Itu sudah jelas," lanjut pria asal Swis itu.
Menyusul kegagalan Inggris jadi tuan rumah Piala Dunia, pekan kemarin Presiden Asosiasi Sepakbola Inggris, Roger Burden, membatalkan aplikasi untuk menduduki posisi permanen di FIFA. Dalam pernyataannya, dia menyebut kalau FIFA tak lagi bisa dipercaya.
Burden menyebut kalau tim bidding Piala Dunia Inggris, yang termasuk di dalamnya perdana menteri David Cameron dan Pangeran William, sudah dijanjikan akan mendapat suara dari anggota komite eksekutif FIFA. Janji yang kemudian tak terwujud karena Inggris ternyata cuma mendapat dua suara dan terdepak dari voting babak pertama.
"Saya merasa kalau rekasi yang muncul adalah bentuk arogansi dari negara barat. Beberapa orang tak bisa menerima kalau (negara) lain punya kesempatan untuk berubah."
"Apa salahnya jika kita memulai sepakbola di wilayah di mana olahraga ini menunjukkan potensi untuk lebih berkembang lebih jauh."
"Tak ada korupsi sistematis di FIFA. Itu omong koasong. Secara keuangan kami bersih dan itu jelas," tuntas Blatter terkait tuduhan adanya korupsi yang menyertai terpilihnya Rusia dan Qatar.
(din/nar)











































