Seperti diketahui, Jepang diguncang gempa berkekuatan 8,9 skala ritcher yang disertai tsunami pada akhir pekan lalu. Puluhan hingga ratusan ribu korban jiwa diprediksikan jatuh akibat bencana tersebut.
Sebagaimana banyak sektor kehidupan yang terputus akibat kejadian tersebut, dunia olahraga, khususnya sepakbola, juga terkena dampaknya. Asosiasi Sepakbola Jepang, setelah mengadakan pertemuan dengan seluruh klub yang berlaga di dua kasta teratas kompetisi, memutuskan untuk meniadakan semua pertandingan liga di sisa bulan Maret dan baru akan memulai lagi di awal April mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masalah yang dihadapi J-League bukan hanya pada jadwal pertandingan saja. Faktor psikologis pemain yang terguncang pasca bencana dahsyat itu pun menjadi perhatian besar. Mereka diliputi kekhawatiran untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena adanya ancaman radiasi seletah PLTN di Furushima terbakar.
Selain itu pasokan listrik dan air di Jepang juga terganggu akibat bencana ini. Alhasil asrama yang ditinggali para pemain pun terkena imbasnya.
"Tidak ada air di asrama tim, tidak ada makanan, tidak mandi, bahkan tidak ada aktivitas mencuci selama empat hari ini. Para pemain stress. Mereka tidak bisa berlatih seperti biasa, bahkan kemarin para pemain terpaksa berlatih di sebuah lapangan buatan yang biasa digunakan untuk umum," tuntas Ibata.
(din/nar)











































