Dua gol Gabriel Batistuta hanya mampu dibalas sekali Benjamin Galindo dan membuat Argentina menang 2-1 di laga final 4 Juli 1993. Itu adalah titel Copa America ke-14 yang membuat mereka sejajar dengan Uruguay sebagai tim paling sering juara.
Sayang itu adalah gelar terakhir Argentina di seluruh kompetisi senior level internasional. Setelahnya Argentina yang salah satu kiblat sepakbola dunia selalu gagal di turnamen manapun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pastinya Abiceleste tak ingin melihat rivalnya itu berjaya untuk ketiga kalinya secara beruntun di perhelatan Copa America 2011. Apalagi keuntungan sudah dikantongi Argentina dengan jadi tuan rumah.
Bermaterikan pemain-pemain kelas satu termasuk Lionel Messi, asa tinggi pun disematkan pada mereka untuk jadi juara. Namun belum apa-apa tekanan sudah mulai terasa saat Argentina kalah di dua laga ujicoba terakhirnya, kontra Nigeria dan Polandia.
Meski berdalih turun tanpa kekuatan intinya, kekalahan itu sudah jadi sinyal jika Argentina masih harus berbenah jelang kickoff 1 Juli mendatang.
Pekerjaan rumah bagi Sergio Batista dalam waktu kurang dari sebulan. Tapi pelatih berambut gondrong itu menyangkal jika ia sedang berada dalam tekanan.
Baginya membawa Argentina juara adalah kewajiban dan tak bisa ditawar lagi. Karena hakikat juara dunia dua kali itu sebagai tim besar adalah meraih trofi.
"Kami tidak akan gagal. Kami harus menang-karena kami bermain di Argentina. Ekspetasi begitu besar dan Argentina dalam semua hal dituntut untuk meraih kesuksesan," tegas Batista di Yahoosports.
(mrp/roz)











































