Dengan mengandalkan solidnya lini belakang dan lini serang tajam yang berpusat kepada Diego Forlan, Luis Suarez dan Edinson Cavani, Uruguay menghentak di Afrika Selatan dengan menjadi tim yang finis keempat.
Hasil itu jelas bukan saja membanggakan tetapi sekaligus melipur dahaga Uruguay setelah tak kunjung bisa melewati babak 16 besar sejak Piala Dunia 1970, saat juara dunia dua kali itu juga finis di posisi keempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setahun berselang, boleh jadi tidak sedikit yang masih meragukan kelayakan Uruguay menjadi semifinalis Piala Dunia 2010. Maka ajang Copa America yang akan bergulir mulai Kamis (1/7/2011) besok pun dapat dijadikan sebagai ajang pembuktian.
Di Copa America sendiri, Uruguay secara historis merupakan tim tangguh. Ini dapat dilihat dari torehan 14 gelar milik La Celeste, sebuah jumlah terbanyak di ajang itu yang hanya disamai oleh Argentina yang nanti akan jadi tuan rumah.
Akan tetapi, sudah lama pula Uruguay tak bisa lagi berjaya di Copa America karena gelar terakhir yang mereka raih adalah pada tahun 1995 alias 16 tahun silam.
Fakta itu niscaya akan kian memotivasi Uruguay untuk membuktikan diri di Copa America, dengan berbekal materi pemain yang tidak jauh berbeda dengan skuadnya di Piala Dunia 2010 lalu.
"Ini (adalah tim yang) sangat tangguh yang berputar di sekitar Diego Forlan (dan) ia berada di dalam kondisi fisik yang amat bagus (setelah istirahat pasca kompetisi liga)," tegas Pelatih Uruguay Oscar Tabarez di Eurosport.
Menghuni Grup C bersama Chile, Peru dan Meksiko, Uruguay akan menjalani partai pertamanya dengan menghadapi Peru pada tanggal 4 Juli mendatang.
(krs/nar)











































