Uruguay lolos ke final setelah finish sebagai runner up Grup B, mengalahkan tuan rumah Argentina di perempatfinal lewat adu penalti, serta menyingkirkan Peru di semifinal. Paraguay melewati fasenya di Grup B dengan tiga hasil seri dari tiga laga, lalu menang adu penalti dari Brasil dan Venezuela di babak knockout.
Uruguay, mantan juara dunia dua kali di "zaman baheula" (1930 dan 1950), dinilai sedang bangkit dari tidur panjangnya, dan itu ditandai ketika mereka sukses menembus semifinal Piala Dunia tahun lalu di Afrika.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam sejarah Copa, yang merupakan turnamen antarnegara tertua, Uruguay berbagi rekor bersama Argentina sebagai tim yang paling sering juara, dengan koleksi 14 titel. Artinya, jika Diego Forlan dkk bisa mengatasi Paraguay hari Minggu (24/7) mendatang, maka rekor itu hanya milik mereka.
Sama seperti Piala Dunia, edisi pertama Copa America (1916) juga dimenangi tim berbaju biru langit itu.
Paraguay dalam sejarahnya baru dua kali menjadi tim terbaik di kawasan Amerika Selatan. Di tahun 1953 mereka menjungkalkan Brasil di final, lalu di tahun 1979 menaklukkan Chile di partai puncak untuk meraih gelar tersebut.
Kemenangan di tahun 1979 itu sekaligus kali terakhir Paraguay tampil di final Copa. Selain dua piala, mereka pernah pula menjadi runner up lima kali di tahun 1922, 1929, 1947, 1949, dam 1963.
Paraguay sesungguhnya juga sedang memperbaiki prestasinya. Di Piala Dunia tahun lalu, di bawah kendali pelatih Gerardo Martino, tim berjulukan La Albirroja itu tampil gemilang dengan lolos sampai babak perempatfinal, dan itu adalah catatan terhebat mereka. Mereka dihentikan tim yang kemudian menjadi juara, Spanyol, dengan skor tipis 0-1.
(a2s/arp)











































