Hal tersebut disampaikan oleh chairman ECA Karl Heinz Rummenigge. Pria yang juga CEO Bayern Munich itu menilai bahwa kasus korupsi yang terjadi di FIFA berlangsung di setiap hari dan ia meminta otoritas sepakbola untuk mempertimbangkan bahwa ini adalah saatnya untuk demokrasi, transparansi, dan juga keseimbangan yang tepat dalam keluarga besar sepakbola.
Ini adalah kali kedua Rumenigge mengungkapkan perlunya perbaikan di tubuh FIFA setelah sebelumnya dia mengatakannya pada awal Juni silam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pergerakan ini bukan hanya milik klub-klub papan atas saja, namun semua klub," tegas pria 55 tahun itu.
Rumenigge menilai perubahan ini terpaksa dilakukan dari pihak luar, karena FIFA menurutnya sudah tidak bisa mengubah dirinya sendiri.
"Sepp Blatter mengatakan bahwa dia akan melakukan bersih-bersih, tapi faktanya tak ada yang percaya kepadanya. Saya tidak yakin karena sistem yang ada di FIFA sudah bekerja secara sempurna. Mereka adalah mesin uang, Piala Dunia setelah Piala Dunia. Bagi mereka, itu lebih penting dibandingkan kepengurusan yang bersih dan serius," tegasnya.
Ia juga tidak senang dengan padatnya kalender turnamen internasional yang ditetapkan oleh FIFA. Masalah jadwal laga internasional ini sering menimbulkan konflik kepentingan antara klub dengan tim nasional.
"Ketika saya memenangi kejuaraan Eropa tahun 1980, ada delapan tim di putaran final. Jumlah itu akan meningkat tiga kali lipat di tahun 2016. Di Piala Dunia, sebelumnya 16 tim, kini 32 tim. Klub membayar pemain namun tak dilibatkan dalam pengambilan keputusan mengenai hal ini."
ECA juga siap memisahkan diri dari asosiasi internasional bila seruan ini tidak diindahkan. "Saya akan memberikan mereka kesempatan, namun saya siap untuk sebuah revolusi jika memang itu satu-satunya jalan."
"Saya akan melangkah lebih lanjut. Klub, asosiasi, pemain, wasit, dan sepakbola wanita, semua seharusnya terlibat dalam proses pengambilan keputusan," pungkasnya.
(nar/arp)











































