Blatter Minta Maaf tapi Menolak Mundur

Blatter Minta Maaf tapi Menolak Mundur

- Sepakbola
Sabtu, 19 Nov 2011 01:39 WIB
Blatter Minta Maaf tapi Menolak Mundur
London - Presiden FIFA Sepp Blatter meminta maaf atas komentar kontroversial tentang rasisme dalam sepakbola. Tapi Blatter tak akan meletakkan jabatannya meskipun menerima desakan mundur dari Inggris

"Ini menyakitkan dan saya masih merasa sakit karena saya tidak memperkirakan terjadi reaksi seperti itu, ucap Blatter kepada BBC.

"Ketika Anda melakukan sesuatu yang tidak sepenuhnya benar, saya hanya bisa bilang maaf untuk semua pihak yang terkena efek dari komentar saya," lanjut dia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Belum lama ini, dalam sesi wawancara tv terpisah, Blatter memberi komentar yang terkesan menyepelekan rasisme dalam sepakbola. Tak pelak berbagai reaksi keras pun bermunculan meskipun yang bersangkutan berkelit komentarnya telah disalahartikan.

Inggris jadi salah satu yang paling marah dengan komentar Blatter itu. Soalnya, Badan Sepakbola Inggris (FA) tengah menangani dua kasus tuduhan rasisme yang melibatkan sejumlah pemain ternama.

Kritikan datang dari para pemain seperti bek Manchester United, Rio Ferdinand dan mantan kapten timnas Inggris, David Beckham serta Perdana Menteri Britania David Cameron ikut angkat suara.

Media-media Inggris ikut menentang Blatter dengan ramai-ramai memasang headline yang berisi desakan bagi pria 75 tahun itu untuk mengundurkan diri. Akan tetapi, Blatter menolaknya.

"Saya tidak bisa mundur. Kenapa saya harus mundur,?" imbuh dia.

"Ketika Anda berhadapan dengan sebuah masalah Anda harus menghadapi masalah itu. Meninggalkan berarti sangat tidak adil dan tidak sesuai dengan semangat juang saya, karakter saya, energi saya, komitmen pribadi saya kepada sepakbola dan komitmen pribadi saya untuk membawa FIFA keluar dari kesulitan."

"Ini insiden serius, Anda tidak dapat bilang ini tidak serius tapi kita harus terus maju, saya harus terus maju. Mari kita lihat apa reaksi selanjutnya. Situasi ini hanya akan membuat kita lebih kuat dengan bersatu," demikian diwartakan Reuters.


(rin/rin)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads