Australia maju menjadi salah satu kandidat tuan rumah gelaran tersebut tetapi hanya mendapat satu suara dari komite eksekutif FIFA di putaran pertama, dengan Qatar terus melaju dan mengalahkan Amerika Serikat pada putaran empat bulan Desember lalu di Zurich.
Proses penunjukan Qatar menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 alih-alih AS dan Australia, plus penunjukan Piala Dunia 2018 ke Rusia, banyak menerima kritikan terkait dengan adanya dugaan korupsi di tubuh FIFA.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tidak tahu apakah Anda ingat ketika saya kembali pada hari tersebut (setelah kalah bidding) dan saya katakan 'ini belumlah akhir dari penunjukan Piala Dunia'," ujar Lowy di ABC.
"Well, itu memang belum berakhir dan kata-kata terakhirnya belum kita dengar," cetusnya.
Pria kelahiran Cekoslowakia 81 tahun silam itu mengaku tidak bisa menjelaskan panjang lebar mengenai apa yang sudah membuat dirinya sedemikian yakin. Tetapi itu tak mengurangi optimismenya kalau penunjukan Piala Dunia 2022 masih bisa berubah.
"Jangan minta saya memaparkan karena saya tak punya bola kristal... tapi media di penjuru dunia sedang membicarakannya, penunjukan Piala Dunia 2022, keadaan komite eksekutif FIFA, dan hal sebagainya."
"Ini belum selesai. Saya tak tahu persis akan bagaimana kelanjutannya. Satu hal yang saya tahu pasti adalah ini belum selesai," simpul Lowy.
(krs/a2s)










































