Setelah sekitar empat bulan terombang-ambing dalam pusaran konflik, FIFA akhirnya turun tangan langsung menengahi kisruh di tubuh otoritas sepakbola nasional. Di awal April 2011, FIFA memutuskan mengambil alih Komite Eksekutif dan pada saat bersamaan membentuk Komite Normalisasi (KN).
Diketuai Agum Gumelar, KN diserahi tugas untuk (1) menjalankan pemilihan ketua umum dan wakil ketua umum serta Exco PSSI, (2) mengontrol liga di bawah PSSI termasuk mengontrol Liga Primer Indonesia (LPI) atau menghentikannya serta (3) menjalankan fungsi keseharian PSSI, sebagaimana mestinya termasuk melakukan pembinaan dan lainnya. Namun pembentukan KN tak serta merta membuat kisruh di tubuh PSSI mereda. Keputusan FIFA yang tetap melarang empat nama (George Toisutta, Arifin Panigoro, Nirwan D Bakrie serta Nurdin Halid) kembali maju dalam pencalonan ketua umum PSSI periode berikutnya menuai pro dan kontra.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada pertengahan bulan, PSSI juga sempat menggelar kongres 'dadakan' di Hotel Sultan. Pertemuan yang awalnya cuma dijadwalkan sebagai ajang diskusi tersebut kemudian menjadi kongres untuk memilih Komite Pemilihan dan Komite Banding.
Menjelang akhir April, Komite Normalisasi akhirnya mengumumkan 19 nama yang dianggap berhak maju dalam pencalonan ketua umum yang baru. Dalam daftar tersebut tak tercantum nama AP, GT, NDB serta NH.
Jika di dalam negeri terjadi konflik berkepanjangan di PSSI, sepakbola Eropa menyajikan tontonan sangat menghibur karena dari total lima El Clasico di musim 2010/2011, tiga di antaranya tersaji di sepanjang April. Pertemuan pertama Real Madrid dengan Barcelona berlangsung di Santiago Bernabeu pada ajang La Liga di mana pertandingan berkesudahan sama kuat 1-1 lewat gol Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.
El Real yang tak pernah mengalahkan Barca sejak Josep Guardiola datang di Camp Nou akhirnya bisa memetik kemenangan pertama mereka di ajang Copa del Rey. Sebuah gol tandukan Cristiano Ronaldo di periode injury time memberi Iker Casillas cs trofi juara pertamanya bersama pelatih Jose Mourinho. Mungkin terlalu bersemangat dengan sukses mengalahkan Barca dan jadi juara, Sergio Ramos sampai menjatuhkan trofi tersebut dari atas bus saat dibawa berkeliling. Beberapa bagian trofi dikabarkan mengalami kerusakan.
Duel ketiga, yang menjadi terpanas, berlangsung di ajang Liga Champions, tepatnya leg pertama babak semifinal. Menjalani pertandingan pertama di Santiago Bernabeu, Barca pulang membawa kemenanan 2-0 lewat dua gol Lionel Messi. Sempat terjadi keributan antarpemain, wasit mengeluarkan dua kartu merah masing-masing untuk Jose Pinto di kubu Barca dan Pepe di pihak Madrid serta Jose Mourinho yang dikirim wasit ke tribun penonton.
Banyaknya insiden di El Clasico Eropa tersebut membuat UEFA sampai melakukan penyelidikan dan melontarkan dakwaan pada kedua kubu. Dakwaan ke arah Los Merengues terkait kartu merah yang diterima Pepe, pengusiran Mourinho ke tribun, misil yang dilemparkan ke lapangan, invasi ke lapangan, dan komentar Mourinho pasca pertandingan. Satu dakwaan yang dihadapi Barcelona adalah terkait kartu merah untuk Jose Pinto, mengingat dia ketika itu tidak berada di lapangan dan cuma jadi cadangan.
Masih di Liga Champions, April menjadi bulan di mana klub-klub papan atas Eropa mengukuhkan dominasinya atas para kejutan. Sebelum dihadang Barcelona, Madrid mendepak Tottenham Hotspur di babak perempatfinal dengan agregat 5-0. Sementara Schalke 04, yang sempat membuat kejutan dengan menghantam Inter Milan dengan agregat 7-3, di buat tak berdaya oleh Manchester United saat harus tunduk 0-2 di kandang sendiri pada leg pertama.
Dari Liga Inggris, MU semakin mendekatkan diri untuk jadi juara setelah pada pekan pertama April mampu unggul 10 poin atas Arsenal di posisi kedua. The Red Devils tampil sangat stabil di bulan ini, sementara pesaingnya kerap inkonsisten yang dibuktikan dengan beberapa kali Arsenal dan Chelsea saling bertukar posisi di urutan dua.
Tapi dominasi MU tak sampai ke ajang Piala FA, di mana mereka kalah 0-1 atas Manchester City pada laga semifinal. The Citizens akhirnya menghadapi Stoke City di final, setelah pada semifinal yang lain menghancurkan Bolton Wanderers 5-0.
Juga semakin mendekatkan diri dengan titel juara di April ini adalah AC Milan. Di akhir April, tepatnya pekan ke-34 kompetisi, Rossoneri mejauhkan jaraknya dengan Inter Milan menjadi delapan poin. Sampai saat itu Alessandro Nesta cuma berjarak empat angka saja dengan Scudetto-nya. Malang buat Milan, mereka tampil kurang oke di Coppa Italia karena mereka cuma bisa bermain imbang 2-2 kontra Palermo pada pertandingan pertama di kandang sendiri.
Adalah Borussia Dortmund yang menggelar pesta juara lebih dulu. Pada 30 April, saat menjalani pekan ke-32 Bundesliga, mereka berhasil mengukuhkan diri menjadi juara. Kemenangan atas Nurnberg dan dibarengi tumbangnya Bayer Leverkusen atas Koeln memastikan Die Schwarzgelben jadi kampiun. Dortmund mengumpulkan 72 poin dari 32 pertandingan, unggul delapan angka atas Leverkusen di posisi dua.
(din/roz)











































