Mari ke Premier League lebih dulu. Manchester United sukses menciptakan sejarah di Liga Inggris dengan melampaui perolehan gelar juara milik Liverpool. 'Setan Merah' menduduki takhta sepakbola Inggris sendirian dengan koleksi 19 gelar setelah bermain imbang 1-1 melawan Blackburn Rovers di Ewood Park pada 14 Mei.
Namun demikian, perjuangan skuad arahan Sir Alex Ferguson itu terbilang tak mudah. Di awal-awal bulan, The Red Devils sempat dibuat tertekan akibat menelan kekalahan dari Arsenal dan Chelsea. Toh, pada akhirnya, tekad untuk menjadi pemegang gelar juara terbanyak bisa menepikan semua tekanan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada akhir musim, Milan unggul enam angka atas Inter di papan klasemen. La Beneamata sendiri sempat babak belur ketika ditangani oleh Rafael Benitez. Sampai kemudian Benitez dipecat dan posisinya digantikan oleh eks arsitek Milan, Leonardo.
Bagaimana dengan Bundesliga? Borussia Dortmund, yang sudah memastikan gelar juara sejak bulan April, finis dengan keunggulan tujuh angka atas Bayer Leverkusen di klasemen akhir. Sementara Bayern Munich harus puas finis di urutan ketiga. Hasil itu kelak membuat Bayern melakukan perombakan besar-besaran dan mendatangkan Jupp Heynckes, setelah sebelumnya memecat Louis Van Gaal pada bulan April.
Cerita dari tanah matador tak ada yang baru. Masih ada Barcelona dan Real Madrid yang begitu dominan di sana. Hanya saja, Madrid dengan Jose Mourinho di kursi pelatihnya masih belum bisa menghentikan laju Barca musim itu.
Barca meraih 96 poin hasil dari 30 kemenangan dan enam hasil imbang. Los Cules pun memastikan gelar juara pada 11 ei setelah bermain imbang 1-1 melawan Levante, sementara masih ada dua pertandingan tersisa menuju akhir musim. Selisih enam poin dan rekor head-to-head yang lebih baik dari Madrid membuat mereka memastikan diri menjadi juara waktu itu.
Pertarungan Barca dan Madrid juga terjadi di Eropa, di mana kedua tim bertemu di semifinal Liga Champions. Barca akhirnya melaju ke final setelah menang agregat 3-1 atas rival beratnya itu dan menghadapi MU di babak final, yang ketika itu digelar di tanah Inggris.
Stadion Wembley, London, pada 28 Mei 2011, kemudian menjadi saksi bagaimana Barca layak dinobatkan menjadi raja Eropa. Lewat permainan mengalir yang diperagakan punggawa-punggawanya, mereka membuat sang juara Inggris tidak berkutik. Barca membuat MU bertekuk lutut dengan skor 3-1, sebuah hasil yang membuat Sir Alex Ferguson pun sampai tersenyum lantaran mengakui kekalahannya dari Pep Guardiola.
Laga itu juga menjadi laga terakhir Edwin Van der Sar yang memutuskan untuk gantung sarung tangan setelah musim selesai. Tak lama setelahnya, Paul Scholes juga gantung sepatu, menjadikan final Liga Champions itu sebagai laga terakhirnya juga.
Jangan lupakan juga final Liga Europa, di mana dua tim asal Portugal beradu; FC Porto vs Braga. Porto yang keluar sebagai juara Liga Portugal pada musim itu, sukses mengalahkan Braga lewat gol tunggal yang diciptakan oleh Radamel Falcao. Kemenangan itu kelak melambungkan nama seorang manajer muda bernama Andre Villas-Boas, yang dikenal orang sebagai eks asisten Mourinho dan pernah menimba ilmu juga pada mendiang Bobby Robson.
Berkat prestasi gemilangnya membawa Porto merajai Portugal dan memenangi Liga Europa, Villas-Boas pun membuka jalan menuju Premier League. Kelak, Chelsea memilihnya untuk menggantikan Carlo Ancelotti yang didepak lantaran dianggap kurang memberikan hasil yang memuaskan buat The Blues.
Bagaimana dengan sepakbola tanah air? Berbagai kisruh masih mewarnainya. Arema dilanda masalah setelah terungkap bahwa mereka belum membayar gaji para pemainnya selama beberapa bulan. Sementara itu, Komite Normalisasi dibentuk untuk mengawal pelaksanaan Kongres PSSI untuk memilih ketua umum, wakil ketua umum, dan Komite Eksekutif periode 2011-2015 pada 20 Mei.
Kongres tersebut kemudian berjalan tanpa hasil setelah berlangsung selama enam jam. Suasana menjadi ricuh setelah peserta kongres, terutama pendukung George Toisutta dan Arifin Panigoro mempertanyakan soal penolakan terhadap GT-AP walaupun sempat diloloskan oleh Komite Banding.
Sebagai penyelesaiannya, Ketua Komite Normalisasi Agum Gumelar akhirnya memutuskan untuk mengakhiri sidang tanpa hasil sekitar pukul 20.50 WIB. "Dengan mengucapkan Alhamdulillah dan meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia, sidang ditutup," ujar Agum sambil mengetuk palu.
(roz/a2s)











































