Inggris Punya Contoh Moral & Profesionalisme di Sepakbola
Selasa, 03 Agu 2004 12:31 WIB
Jakarta - Skandal Sven Goran Eriksson dengan Faria Alam masih menjadi tanda tanya. Akankah Eriksson tetap melatih karena kemampuannya di lapangan, atau justru terdepak karena masalah moral?Apa yang akan terjadi kepada Eriksson akan terjawab dalam beberapa hari lagi. Asosiasi Sepakbola Inggris (FA) sudah menjadwalkan pertemuan khusus hari Kamis (5/8/2004). Dan hari Senin (9/8/2004), keputusan FA akan diumumkan secara resmi.Korban pertama dari kasus ini sudah jatuh. Ketua Eksekutif FA Mark Palios,Minggu (1/8/2004) lalu, resmi mengundurkan diri dari jabatannya. Tindakan Palios ini cukup mengejutkan banyak pihak, terutama pejabat-pejabat teras FA.Tentu kita masih ingat FA beberapa kali membantah berita skandal Palios, yanguniknya juga dengan Faria Alam. Justru akhirnya berita skandal Eriksson dengan Faria yang lebih digembar-gemborkan.Namun Palios tidak menginginkan adanya tumbal untuk keselamatan dirinya. Palios mengundurkan diri, dan justru menyatakan dukungannya kepada Eriksson. Semakin kuatlah pertentangan di tubuh FA. Bahkan beberapa tokoh sepakbola Inggris serta para pemain, juga menyatakan simpatinya kepada Eriksson.Apakah yang diharapkan orang yang mendukung Eriksson? Yang utama tentu saja prestasi dan profesionalisme. Jika tidak Eriksson, siapa lagi yang pantas menjadi pelatih Inggris saat ini? Sementara prestasi Eriksson sebagai pelatih tidak perlu diragukan lagi.Beberapa klub Eropa pernah ditanganinya seperti IFK Gothenburg, Benfica, AS Roma, Fiorentina, Sampdoria dan terakhir Lazio. Kesemuanya pernah merasakan gelar juara bersama Eriksson kecuali Fiorentina.Pengabdiannya untuk tim Inggris juga sangat pantas diacungi jempol. Lihat saja bagaimana Eriksson berjuang keras membela Rio Ferdinand saat menghadapi pengadilan komisi disiplin FA, akibat kecerobohannya tidak hadir saat tes doping.Apalagi kenyataan bahwa Eriksson memang sedang "hidup sendiri" saat ini, tentu tidak bisa dipersalahkan karena menjalin hubungan dengan lawan jenisnya. Tetapi jika seperti yang dituduhkan telah menjalin hubungan seks, tentu permasalahannya adalah moral.Sebagai seorang pemimpin, tentu Eriksson diharapkan bisa menjadi teladan bagi lingkungannya. Wajar jika kemudian muncul kekhawatiran kesalahan Eriksson bisa menciptakan ketidakstabilan di dalam tim. Meski kenyataannya hingga saat ini tim Inggris tetap solid dibawah Eriksson.Jika menempatkan urusan pribadi seseorang di atas profesionalisme, tentu tidak ada seorangpun yang layak jadi pemimpin. Karena memang tidak ada manusia yang sempurna.Bagaimanapun langkah FA yang cepat tanggap terhadap suatu masalah, patut diacungi jempol. Jika dibandingkan dengan sepakbola tanah air, tentu sulit menemukan hal semacam itu. Kasus yang dialami FA tidak jauh berbeda dengan PSSI saat ini. Tidak sama persis memang, tetapi yang pasti Ketua Umum PSSI Nurdin Halid sekarang menjadi tersangka dalam kasus gula ilegal. Di tengah kondisi pemimpin yang sedang sakit, PSSI justru terkesan lamban dalam mengambil tindakan. Ini mungkin terdengar konyol, tetapi apa harus ada tumbal dulu, baru PSSI mau bertindak? (lom/)











































