Jepang Lawan Asia?

Jelang Final Piala Asia

Jepang Lawan Asia?

- Sepakbola
Kamis, 05 Agu 2004 13:59 WIB
Jakarta - Pertarungan Jepang dan Cina di babak final Piala Asia 2004 Sabtu (7/8/2004) lusa, tidak hanya persoalan menang atau kalah. Namun lebih dari itu, seluruh Asia akan bersatu melawan Jepang.Sejak awal kedatangannya ke Cina, tim Jepang sudah menerima sambutan yang kurang simpatik dari suporter Cina. Ejekan dan sindiran yang mengangkat kisah penjajahan Nippon atas Cina tidak pernah hilang dari pandangan sehari-hari tim Jepang.Saat pertandingan kondisinya tidak jauh berbeda, bahkan lebih parah. Cemoohan tidak hanya diteriakkan warga Cina, tetapi juga suporter negara peserta lainnya seperti Thailand, Jordan dan Bahrain.Salah satu spanduk yang terlihat saat Jepang sedang bertanding, seperti dilansir Reuters, Rabu (4/8/2004) bertuliskan, "Ingat sejarah, minta maaf kepada orang Asia". Kalimat yang bermaksud menyindir invasi serdadu Jepang ke negara-negara Asia termasuk Indonesia sebelum dan saat Perang Dunia II. Meskipun sedemikian besarnya tekanan yang diterima, Jepang tetap mampu menunjukkan kelasnya sebagai tim juara. Jepang lolos dari babak penyisihan grup D, sebagai juara grup. Di babak perempat final, Jepang menyingkirkan Yordania melalui adu penalti setelah bermain imbang 1-1. Sementara di babak semifinal, Jepang menang 4-3 atas Bahrain pada babak perpanjangan waktu.Sementara itu langkah tuan rumah Cina ke babak final tidaklah "sebersih" prestasi Jepang. Lihat saja bagaimana tindakan pemain Cina yang melakukan "akting" berlebihan saat melawan Iran, yang menyebabkan wasit memberikan kartu merah kepada seorang pemain Iran.Jika melihat prestasi kedua tim, tentu Jepang lebih layak diunggulkan. Selain juara bertahan, Jepang juga merupakan juara tahun 1992. Sementara Cina belum sekalipun juara. Tetapi jangan lupa, di partai puncak mendatang Jepang tidak hanya akan melawan Cina. Seluruh suporter yang negaranya sudah tumbang di babak sebelumnya, akan memberikan tekanan tersendiri terhadap Jepang.Namun demikian, apapun alasannya sangat tidak relevan jika kemudian dunia olahraga khususnya sepakbola dirusak oleh sentimen nasionalisme yang tidak pada tempatnya. Jika hal seperti ini dibudayakan, maka selanjutnya bukan sejarah yang menghancurkan olahraga, tetapi olahragalah yang membuat sejarah kehancuran.Tanda-tandanya sudah mulai terlihat. Perlakuan tidak menyenangkan tuan rumah terhadap tim Jepang, memicu beberapa anggota senat Jepang semakin gencar menekan pemerintah untuk memboikot Olimpide 2008 yang akan dilaksanakan di Beijing, Cina. Tentunya kodisi tersebut sangat tidak kita inginkan. Karena olahraga adalah salah satu sarana pemersatu bukan pemicu perselisihan. (lom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads