Mimpi Piala Dunia Juga Milik Palestina

Mimpi Piala Dunia Juga Milik Palestina

Meylan Fredy Ismawan - Sepakbola
Jumat, 16 Mar 2012 11:26 WIB
Mimpi Piala Dunia Juga Milik Palestina
(AFP)
Jakarta -

Di sebuah stadion di Al-Bireh, Palestina, Adam, seorang bocah laki-laki berusia tiga tahun tengah berlari dan mencoba mengoper bola sesuai dengan instruksi pelatih. Ia sedang mengejar mimpi ke Piala Dunia.

Adam, yang ukuran badannya tidak berbeda jauh dengan bola yang sedang dia mainkan, adalah satu dari sekian banyak bocah yang mengikuti sekolah sepakbola yang dijalankan oleh sebuah organisasi non-pemerintah bernama Palestine: Sports for Life (PS4L).

Lewat program pembinaan usia dini yang mereka canangkan, PS4L berkeinginan melahirkan bintang-bintang baru yang bisa membantu negara mereka berprestasi. Tak main-main, mereka membidik turnamen sekelas Piala Dunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdiri sejak tahun 2010, PS4L menggandeng sejumlah atlet lokal demi membawa Palestina ke level sepakbola yang lebih tinggi. Harapannya, negara mereka sudah jadi salah satu peserta putaran final Piala Dunia pada tahun 2022.

"Tujuan utamanya adalah menghasilkan pemain-pemain berkualitas yang mampu mewakili Palestina di Piala Dunia 2022. Ini adalah visi kami dan mimpi mereka," terang pimpinan PS4L, Tamara Awartani, kepada AFP.

Awartani menjelaskan, sekolah miliknya yang berisi anak-anak usia 3-12 tahun mengajarkan teknik-teknik dasar bermain bola, juga permainan tim, disiplin, dan komunikasi antarpemain. Agar materi latihan juga makin berbobot, pelatih-pelatih yang dipakai pun juga dari liga teratas Palestina.

Istimewanya, PS4L tak cuma melatih anak-anak tersebut di Al-Bireh saja. Mereka juga memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengikuti pelatihan berlevel internasional di negara lain seperti Yordania atau Turki.

"Kami sedang mencoba untuk menciptakan tempat bagi anak-anak ini untuk melakukan aktivitas daripada cuma nonton TV, main Facebook, atau video game," jelas Awartani.

Palestina memang bukan negara kuat di sepakbola. Jangankan lolos ke Piala Dunia, negara yang menghuni peringkat 162 FIFA ini juga masih keteteran di level Asia. Dalam ujicoba di Solo tahun lalu, tim senior mereka juga kalah 1-4 dari Indonesia.

Meski demikian, mereka tetap berani bermimpi dan telah berbuat agar mimpinya kelak terwujud. Seperti halnya PS4L, bocah-bocah Palestina yang mengikuti sekolah sepakbola ini juga yakin akan ada di Qatar sepuluh tahun mendatang.

"Saya akan ada di tim 2022," seru Karim Omar (10 tahun), yang disebut-sebut sebagai salah satu anak paling berbakat.

"Saya sudah memulai bersepakbola saat saya masih muda, dan saya ada di sini untuk ada di tim nasional tahun 2022," kata anak yang lain, Mustafa Shaltaf (12 tahun).

PS4L tak mau setengah-setengah dalam menjalankan programnya. Mereka rela mengeluarkan uang untuk menyewa Stadion Internasional Majed Assad dua kali sepekan demi mendapatkan lapangan yang layak untuk latihan. Sebagai konsekuensinya, mereka harus mengalah kalau ada tim profesional yang berlatih atau bertanding.

"Mereka harus terbiasa merasakan kualitas sedari bocah, Anda tak pernah belajar pemainan dengan benar tanpa stadion yang nyata," kata Awartani.

"Dengan semua talenta yang kami miliki kami akan membentuk sebuah tim di bawah nama kami yang akan ambil bagian di liga U-12 dan U-14," tambahnya.

"Kami punya begitu banyak bakat di sini yang harus disempurnakan dan dikembangkan, sehingga suatu hari nanti mereka dapat mewakili Palestina secara internasional," pungkas dia.

(mfi/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads