Liga Mesir memang tengah vakum. Hal ini sebagai buntut kerusuhan pada laga Al-Masry kontra Al-Ahly di Port Said, bulan Februari silam. Kerusuhan ini menewaskan 74 orang.
Saksi mata menyatakan bahwa dalam insiden berdarah itu suporter Al-Masry turun ke lapangan dan menyerang suporter Al-Ahly. Suasana makin mencekam karena lampu mati dan pintu stadion terkunci. Aparat keamanan di dalam stadion dikabarkan melakukan pembiaran atas kejadian ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski pengadilan belum menjatuhkan putusan, EFA berencana untuk memutar liga lagi pada bulan depan. Hal inilah yang membuat marah kelompok suporter fanatik yang biasa disebut Ultras.
Sekitar 300 anggota Ultras kemudian melampiaskan kekesalan mereka dengan menyerang kantor EFA. Mereka memecahkan kaca, mengambil piala, dan menghancurkan mobil-mobil milik karyawan EFA. Pihak keamanan tak mampu berbuat apa-apa karena mereka kalah jumlah.
Ultras sebenarnya telah memperingatkan EFA soal rencana penyerbuan ini kalau liga tetap akan dilanjutkan. Tapi, EFA tak menggubrisnya.
Di Mesir, Ultras bukan sekadar suporter sepakbola saja. Tahun lalu, mereka juga terlibat dalam aksi protes menentang rezim Husni Mubarak dan ikut berperan menggulingkan Mubarak yang telah berkuasa selama hampir 30 tahun. Demikian dilansir Yahoosports.
(mfi/nds)











































