Pada bulan Desember 2010, FIFA mengumumkan bahwa Qatar menjadi pemenang bidding tuan rumah Piala Dunia 2022. Negara Timur Tengah itu menyisihkan beberapa negara lain seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, dan Australia.
Terpilihnya Qatar kemudian memunculkan perdebatan apakah Piala Dunia akan tetap digelar pada musim panas atau tidak. Maklum, cuaca di negeri penghasil minyak itu pada bulan Juni-Juli sedang panas-panasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya berharap itu akan digelar pada musim dingin," ujar Platini kepada London Evening Standard.
"Kita harus pergi ke Qatar saat kondisinya bagus untuk siapa pun yang berpartisipasi. Apa yang lebih baik untuk fans?" katanya.
Kalau usulan Platini ini dikabulkan, maka FIFA juga harus memikirkan perubahan jadwal liga-liga Eropa di tahun tersebut, termasuk Liga Primer Inggris yang tak mengenal jeda musim dingin.
"Dalam waktu 10 tahun, kita bisa memutuskan bagaimana kita menunda musim selama satu bulan," tutur Platini.
"Januari akan sulit untuk Piala Dunia karena akan ada Olimpiade Musim Dingin. Kalau kita menghentikan kompetisi dari 2 November sampai 20 Desember, itu berarti kompetisi akan selesai pada bulan Juni, bukan Mei. Itu bukan masalah besar," jelas pria berkebangsaan Prancis ini.
"Ini demi kebaikan Piala Dunia, kompetisi paling penting di dunia," tandasnya.
(/)











































