Inilah Para Pemain Indonesia di Homeless World Cup 2012

ADVERTISEMENT

Inilah Para Pemain Indonesia di Homeless World Cup 2012

- Sepakbola
Senin, 15 Okt 2012 11:16 WIB
Jakarta - Indonesia menduduki peringkat keempat di turnamen street soccer bertajuk Homeless World Cup 2012, yang digelar di Mexico City, Meksiko, dari 6 sampai 14 Oktober.

Para pemain ini adalah mereka yang terpilih dari kompetisi League of Change yang diikuti sekitar 80 orang dari delapan provinsi pada Februari lalu di Bandung, Jawa Barat.

Diurus oleh LSM nirlaba Rumah Cemara, tim ini bisa berangkat dan membawa panji Indonesia ke Meksiko berkat dana swadaya dan bantuan dari masyarakat dan sejumlah swasta. Inilah mereka yang membela "Merah Putih" di ajang internasional tersebut:

Farid Satria

Mantan pengguna narkoba ini berasal dari Yayasan Kelompok Peduli Dukungan Sebaya, Sulawesi Selatan. Ia mengaku tidak menyangka bahwa dengan latar belakang masa lalunya ia bisa terpilih mewakili Indonesia dan membela "Merah Putih" di luar negeri.

Ia pun bertekad untuk lebih banyak berkarya dan membantu rekan-rekan di lingkungannya terutama di Makassar untuk meninggalkan narkoba, serta membantu pencegahan virus HIV.


Muhammad Nasib Iqbal

Mantan preman Medan ini mengaku memiliki masa lalu yang kelam sehingga harus terpisah dengan sanak keluarganya. Harta bendanya terjual hanya untuk kenikmatan sesaat narkoba.

Tergabung dalam rumah rehabilitasi Medan Plus sejak Oktober 2011, Iqbal masih tak bisa percaya bisa naik pesawat terbang, bahkan pergi jauh sampai ke Meksiko. Namun ia yakin, saat ini adalah momen untuk menjadi manusia yang lebih baik.

"Dengan Bismillah, saya berniat membuka lembaran hidup yang lebih baik, bisa kembali berkumpul dengan anak-istri, dan syukur-syukur bisa berguna bagi masyarakat lain," ucapnya.

Iqbal menambahkan, bersama Medan Plus ia ingin membantu setiap upaya pemberantasan penggunaan narkoba maupun pencegahan AIDS/HIV di masyakarat.

Doni Setiawan

Bekerja di Yayasan Bina Hati Surabaya, Jawa Timur, Doni mengalami cedera menjelang keberangkatan. Tempatnya kemudian diisi oleh Bonsu Hasibuan, yang sebelumnya diberi tugas sebagai pelaith. Meski demikian Doni tetap ikut dalam rombongan dan membantu rekan-rekannya.

"Cahaya itu datang dari kegelapan. Kami mungkin harus melewati kegelapan itu untuk mencapai cahaya … seperti hidup kami saat ini," tutur Doni, yang berharap masyarakat Indonesia bisa mengenyahkan stigma dan diskriminasi terhadap kaum marjinal.


Arif Apriadi

Sebagai (mantan) pecandu narkoba, Arif bahkan masih harus membawa beberapa botol metadhone -- obat pengganti yang biasa digunakan dalam rangka pengurangan ketergantungan pada narkoba -- dengan surat dokter untuk keperluannya selama di Meksiko.

Namun, berkat keinginan dan semangat yang kuat, Arif berhasil menahan diri untuk tidak mengonsumsi obat tersebut selama 36 jam, dan tetap bermain bola dengan baik, walaupun sempat tersiksa karena cuaca terik dan oksigen yang tipis di Meksiko. "Kami bangga pada Arif," ujar teman-temannya.

Menurut Arif, setelah membaca berita dan foto dirinya di detiksport, orangtuanya juga merasa bangga dan akan lebih mendukung upaya anaknya untuk menjadi individu yang lebih baik.

"Nanti kalau sudah kembali ke Jakarta saya akan masuk rumah rehabilitasi. Saya ingin dan harus bisa berhenti dari ketergantuan semua jenis obat," cetus Arif, yang juga berkeinginan menjadi aktivis di Rumah Cemara.


Adik Mardina Irawan

Rekan Doni di Yayasan Bina Hati Surabaya, Jawa Timur, ini mengaku hidupnya selama ini dibantu oleh sang kakak karena orangtua mereka kesulitan ekonomi untuk membiayai sekolah.

Walaupun bukan pengguna, tapi Adik memutuskan berkecimpung di organisasi yang menangani ODHA, karena seorang tantenya pernah menjadi pengguna narkoba. Dari situ ia mulai semakin giat bekerja di organisasi sosial tersebut.

"Saya tak menyangka bisa masuk tim Indonesia di HWC ini, dan bangga bisa membela 'Merah Putih' di ajang internasional. Saya masih punya mimpi, ingin bergabung dengan timnas di lapangan besar, Mas," imbuhnya.


Mozes Manuhutu

Mozes merasa mendapatkan keluarga baru dalam tim Indonesia di Homeless World Cup 2012. Buat dia, keluarga adalah mereka yang saling membantu dan menyemangati dalam setiap keadaan.

"Saat pulang nanti, yang pertama ingin saya lakukan adalah memeluk keluarga saya," ucap Mozes, seraya menegaskan tekadnya untuk membantu mereka yang ingin keluar dari mengonsumsi narkoba, serta kaum miskin kota.




Anton Sugiri


Kiper yang kalem dan pendiam ini sangat senang dan bangga bisa mewakili Indonesia di HWC 2012. Sugiri yang semata merasa kesulitan beradaptasi dengan tipisnya oksigen di Meksiko, berharap bahwa prestasi Indonesia di ajang HWC ini dapat membantu kaum marjinal, ODHA mantan Pecandu serta kaum miskin kota sehingga dapat diterima di masyarakat dan dapat berkarya bersama untuk Indonesia.





Suherman


Ia menjadi bintang di perhelatan HWC 2012. Selain lewat aksinya menjaga gawang Indonesia, Suherman juga mencuri perhatian media karena selalu penuh senyum. Seorang wasit asal Australia sampai memberinya hadiah berupa peluit khusus yang cuma ada 18 buah di dunia. Senyumnya memberi inspirasi, demikian alasan sang wasit.

Dengan keinginan yang kuat dan semangat, Suherman ingin membuktikan bahwa kaum marjinal seperti mereka bisa juga berbuat sesuatu untuk negara, melalui ajang olahraga seperti di Homeless World Cup. Ia juga berharap bisa menjadi pemain sepakbola profesional.




Bonsu Hasibuan

Ia adalah kapten sekaligus pelatih tim Indonesia ini. Ketika terpilih sebagai kapten, pria asal Padang Sidempuan ini memimpin rekan-rekannya untuk saling mengenal dan mengakrabkan diri selama pemusatan latihan yang berlangsung 2-3 minggu sebelum keberangkatan.

Menurut Bonsu, mewakili negara di ajang HWC 2012 ini merupakan suatu kebanggaan dan kehormatan tersendiri. Ia mengaku tidak menyangka bahwa seseorang yang dulu pernah hidup di jalanan, menjadi bagian masyarakat yang termarjinalkan, kemudian diberi kesempatan dan tanggung jwab untuk membela Merah Putih di luar negeri.

"Ini tim yang luar biasa karena sebagian dana yang digunakan adalah hasil urunan warga masyarakat dari segala penjuru Indonesia. Karena itu, buat kami, ada rasa tanggung jawab tersendiri untuk berusaha sekuat tenaga, semampu kami, untuk masyarakat yang telah membantu," cetus sang kapten, yang juga bercita-cita ingin menjadi pelatih futsal yang hebat.

"Saya sangat menikmati melatih bola. Di sini saya bisa mengenal karakter rekan-rekan, serta cerita hidup mereka. Dari yang kami alami selama di Meksiko ini saya mendapatkan pelajaran bahwa, meskipun setiap individu kita punya keterbatasan, tapi ternyata tim kita bisa bersaing dengan negara-negara lain.

"Saya juga berharap suatu saat nanti Indonesia bisa masuk Piala Dunia. Tidaklah mungkin Indonesia yang punya banyak talenta ini kesulitan untuk menembus Piala Dunia. Kita bisa dan kita mampu, kalau pemerintah dan pengurus serius dengan sepakbola," simpulnya.




==

* Laporan foto oleh Ismu Fitra Kusumo, WNI yang tinggal di Meksiko.




(a2s/krs)

ADVERTISEMENT