sepakbola

Sepakbola Negatif, Bagaimana Melawannya?

Terpopuler Jadwal Pertandingan Klasemen Liga Hasil Pertandingan Man of The Match Gila Bola Foto Video

Sepakbola Negatif, Bagaimana Melawannya?


- detikSepakbola

Jakarta - Mungkin Anda sering muak dengan sebuah tim yang memainkan sepakbola negatif alias bertahan habis-habisan. Tapi untuk melarangnya tidaklah mungkin karena itu merupakan sebuah pilihan yang sah-sah saja.Justru di situlah tantangan bagi para pemain dan pelatih. Ketimbang selalu mengkritik tim-tim yang bermain defensif, sebaiknya mereka mulai mencari cara yang ampuh untuk melawan sistem permainan bertahan.Kesuksesan Yunani menjuarai Piala Eropa 2004 mungkin bisa diteladani. Berdasarkan evaluasi EUFA tentang Euro 2004, tim asuhan Otto Rehhagel itu berhasil menembus tembok pertahanan lawan-lawannya dengan kesabaran, kombinasi permainan, dan sirkulasi bola yang tepat.“Yunani menciptakan kejutan besar dengan memutar balik jarum jam sepakbola dan mendaur ulang ‘seni yang hilang’. Otto Rehhagel telah menunjukkan kepada kita jalan kembali ke masa depan,” demikian laporan UEFA yang dirilis dalam pertemuan badan sepakbola Eropa itu di Stockholm, Swedia, Rabu (22/9/2004).Kekuatan Yunani lebih bersandarkan pada aspek penjagaan pemain (man marking), disiiplin, dan serangan balik yang cepat. Tidak ada hal yang baru dalam taktik permainan mereka. Indikasinya, tim ini hanya mencatat rata-rata 3,5 shot on goal per pertandingan, kalah dibandingkan Italia (8,7) atau Belanda dan Inggris (8,2).Selain itu, tentu saja faktor kemampuan individu, efektivitas serangan balik dan tembakan jarak jauh turut berpengaruh untuk “membunuh” sepakbola negatif. Aturan offside akan dikaji ulangPada kesempatan yang sama UEFA juga akan mengkaji ulang aturan baru mengenai offside. Dalam aturan itu disebutkan bahwa jika seorang pemain lawan dalam posisi tidak aktif untuk menerima bola, maka tidak terjadi offside.Kaidah itu pada pelaksanaannya kerap menimbulkan kontroversi. Pelatih Inggris Sven Goran Eriksson menganggap aturan itu hanya berpulang pada interpretasi wasit, sedangkan interpretasi bisa bermacam-macam. Direktur teknis UEFA Andy Roxburgh mengakui pihaknya ingin membuat sebuah aturan yang dapat diterapkan dengan konsisten dan tidak melibatkan terlalu banyak interpretasi. Untuk itulah aturan offside tersebut akan digodok lagi. UEFA juga sedang mencari solusi terbaik tentang kontroversi padatnya frekuensi pertandingan yang dilakoni terutama oleh pemain bintang. Mereka tidak ingin kasus banyaknya pemain yang kelelahan di kompetisi domestik membawa dampak buruk pada penampilan mereka di turnamen internasional.
(a2s/)











Hide Ads