Kasus rasialisme yang menimpa Kevin-Prince Boateng beberapa waktu lalu mengundang perhatian Sepp Blatter. Presiden FIFA itu berharap akan ada solusi yang lebih baik untuk masalah serupa.
Boateng mendapatkan perlakuan rasis dari sebagian pendukung Pro Patria ketika AC Milan tengah berujicoba dengan klub tersebut. Boateng melawannya dengan mengambil bola, menendangnya ke arah pendukung itu, dan berjalan meninggalkan lapangan. Para pemain Milan kemudian mengikutinya dan pertandingan pun dihentikan.
Beberapa pihak mendukung keputusan Boateng, namun beberapa menilai bahwa ada tindakan lebih baik yang bisa dilakukan. Clarence Seedorf misalnya. Dia menyebut bahwa dengan meninggalkan lapangan, Milan dan Boateng justru menunjukkan mereka memberi ruang untuk tindakan rasis tersebut dan bukannya melawannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam acara penganugerahan Ballon d'Or di Zurich, Selasa (8/1/2013) dinihari WIB, Blatter kembali menegaskan hal tersebut. Tapi, kali ini dia juga mengatakan bahwa tindakan Boateng merupakan tanda bahwa para pemain telah menunjukkan keberanian untuk menentang aksi rasis.
"Jika ada seorang pemain meninggalkan lapangan karena dia telah dilecehkan secara rasial, seperti yang dilakukan pemain Milan Kevin-Prince Boateng, maka itu merupakan sebuah sinyal dari sebuah kekuatan," katanya.
"Masalah ini sudah berjalan terlalu jauh dan tidak boleh lebih jauh dari ini lagi. Tapi, meninggalkan pertandingan tidak bisa menjadi solusi jangka panjang. Kita harus menemukan solusi berkelanjutan untuk menghadapi masalah rasialisme dan diskriminasi sampai ke akar-akarnya."
"Sepakbola tidak boleh membeda-bedakan orang. Sepakbola justru harus menciptakan kebersamaan," ucap Blatter.
(/)










































