Ikut serta di Piala Dunia adalah mimpi bagi setiap negara di dunia, termasuk Tahiti. Namun untuk mewujudkan itu mereka terlebih dulu ingin mengubah status, dari tim amatir menjadi tim profesional.
Tercatat hanya Marama Vahirua yang merupakan pemain profesional di tim Iron Warriors, julukan Tahiti. Sisanya merupakan gabungan dari pengangguran, mahasiswa ekonomi, pengantar makanan, sopir truk, dan guru olahraga.
Dari dua pertandingan Piala Konfederasi mereka menelan kekalahan telak: 1-6 dari Nigeria dan 0-10 dari Spanyol dinihari tadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka juga berharap, Piala Konfederasi bisa menjadi "etalase", sehingga klub-klub profesional di seluruh dunia bisa melihat kemampuan mereka dan syukur-syukur ada yang berminat lalu memboyongnya. Dengan demikian, status mereka pelan-pelan berubah, dan mungkin bisa bertemu kembali dengan Spanyol, Nigeria, Uruguay dan juga negara-negara lainnya di kompetisi FIFA lainnya.
"Kami tidak akan kembali ke Brasil untuk menjalani Piala Dunia tahun depan karena kami terlalu banyak menelan kekalahan di kualifikasi dan tersingkir," kata Etaeta seperti dikutip Reuters, Jumat (22/6/2013).
"Tapi kami telah meletakkan beberapa pondasi. Kami akan berkembang jika beberapa dari pemain kami bermain di klub-klub profesional di seluruh dunia.
"Bukan klub top tentunya, tapi jika kami punya lebih banyak pemain profesional, permainan di Tahiti bisa ikut meningkat dan siapa tahu kami bisa lolos ke Piala Dunia 2018 dan 2022," tambahnya.
Maka tak mengherankan jika para pemain Tahiti terus bersemangat mengejar bola meski gawangnya telah digelontor gol.
(a2s/krs)










































