Total ada delapan gol bersarang di gawang Italia dari tiga pertandingan yang sudah dijalani di Grup A. Setelah kecolongan satu gol dari Meksiko, gawang Buffon tiga kali dibombardir pemain-pemain Jepang. Yang terakhir, Brasil menggelontor empat gol dalam laga yang berkesudahan dengan 4-2 tersebut.
Kemasukan delapan gol di tiga pertandingan bukan kondisi normal untuk Italia. Meski kedatangan Cesare Prandelli dianggap memberi perubahan besar di Gli Azzurri, Italia tetaplah tim yang punya tradisi lini belakang tangguh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebenarnya, saya bisa katakan kalau tim nasional terakhir yang saya ingat bermain seperti ini adalah di Piala Dunia 1978 di Argentina. Dan hanya sekarang pendekatan dengan tipe serupa digunakan lagi di Gli Azzurri," lanjutnya.
Meski kemasukan delapan gol, lini depan Italia berhasil melunasinya dengan juga telah membuat delapan gol. Terkait kekalahan dari Brasil, kiper 35 tahun itu menyebut kalau Italia sesungguhnya bisa mengimbangi lawannya itu.
"Mungkin kami lebih butuh karakter dan determinasi dalam bertahan, meski di babak kedua kami bermain di level yang sama dengan Brasil, yang menurut saya menjadi favorit juara di turnamen ini," lanjut Buffon.
"Saya berharap tidak kemasukan terlalu banyak gol, karena itu bukan kondisi alami saya, meski beberapa di antaranya tercipta dengan kontroversial. Gol Fred? Well, saat itu sudah di menit 90 dan kami tengah mengejar gol balasan, jadi Anda bisa saja membuat kesalahan," tegas dia lagi.
(din/mfi)











































