Wacana untuk "membatasi" gerak-gerik penonton ini dilontarkan oleh presiden konsorsium Maracana, Joao Barboa. Untuk sementara ide ini memang hanya ditujukan untuk setiap pertandingan yang dilaksanakan di Maracana saja.
Meski masih berbentuk wacana, tindakan pelarangan ini dianggap bisa memicu kemarahan publik Brasil secara meluas, dan menegaskan terjadinya gentrifikasi ke wilayah stadion yang telah dimodernisasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami akan berbicara pada klub-klub tentang sebuah perubahan kebiasaan," kata Joao Barboa kepada Extra dan dikutip oleh Reuters.
"Saya berbicara tentang bambu (untuk mengibarkan bendera), petasan, dan menonton pertandingan dengan berdiri."
Stadion Maracana disebut-sebut sebagai rumah spiritual sepakbola Brasil, yang terkenal dengan atmosfer dan kapasitasnya yang besar. Sebelum mengalami renovasi, stadion ini disebut-sebut mampu menampung hingga lebih dari 100 ribu penonton.
Pada Piala Konfederasi lalu, kebijakan tanpa bendera dan alat musik telah diterapkan di sejumlah stadion tempat berlangsungnya pertandingan. FIFA memang telah melarang hal-hal ini muncul di pertandingannya, terutama di Piala Dunia nanti.
Meski tetap berlangsung meriah, namun berbagai kalangan menilai Maracana kehilangan aura magis dan atmosfer aslinya di turnamen yang dimenangi Brasil bulan lalu itu. Biasanya, setiap laga di tempat ini penuh dengan kembang api, bendera, dan berbagai atribut lainnya.
(roz/a2s)











































