Hal itu dikatakan Ibra dalam autobiografi berjudul 'I am Zlatan Ibrahimovic' yang isinya tentu menuturkan perjalanan panjang karier pesepakbola asal Swedia itu.
Baik Mourinho dan Guardiola adalah dua pelatih yang pernah menangani Ibra. Bersama Mourinho, Ibra meraih satu gelar juara Seri A di Inter Milan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Aku rela melakukan apapun untuk Mourinho," ujar Ibra di Sky Sports.
"Dia bekerja dua kali lipat lebih daripada orang lain. Hidup dan nafasnya benar-benar hanya untuk sepakbola. Aku tidak pernah bertemu manajer yang punya pengetahuan soal lawan seperti dirinya. Dia benar-benar teliti, bahkan sampai ukuran sepatu kiper ketiga," sambungnya.
"Itu sedikit yang kudengar sebelum bertemu dengannya. Dia sosok elegan, dia percaya diri tapi aku begitu terkejut. Dia memang tidak ada apa-apanya dibanding para pemain tapi aku dengan cepat merasakan; ada aura berbeda di sekitarnya."
"Mourinho membuat hubungan personal khusus dengan para pemainnya dengan saling mengirim pesan dan pengetahuanya soal situasi kami dengan istri serta anak. Dia selalu menyemangati kami sebelum laga. Seperti teater saja, permainan psikologis," paparnya.
Beda Mourinho, beda pula dengan Guardiola yang memang punya hubungan tak harmonis dengan Ibra semasa sama-sama di Barca musim 2009/2010. Saat itu Ibra cuma semusim berseragam El Barca sebelum dijual ke AC Milan semusim setelahnya.
"Aku benar-benar lepas kendali dan Anda mungkin akan berharap Guardiola akan mengatakan beberapa kata untuk meresponnya, tapi dia benar-benar pengecut," demikian Ibra merujuk pada kejadian pasca kekalahan dari Inter di semifinal Liga Champions 2010.
(mrp/krs)











































