Setelah dua musim bermain di Ligue 2, Monaco langsung diperhitungkan setelah dibeli pengusaha Rusia, Dmitry Rybolovlev, yang kemudian memberi anggaran sangat besar untuk berbelanja pemain.
Di musim panas ini, menandai keberhasilannya promosi, Monaco merekrut sejumlah pemain top seperti Radamel Falcao, Eric Abidal, Joao Moutinho dan Ricardo Carvalho. Ditotal, skuat mereka musim ini bernilai 209 juta euro atau sekitar Rp 3,1 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Monaco berhasil mengalahkan tim kuat Marseille 2-0 di pekan keempat di Stade Velodrome. Dan tadi malam (22/9), tim merah putih itu memaksa PSG bermain imbang 1-1 di Parc de Princes.
Kebobolan oleh gol cepat Zlatan Ibrahimovic di menit kelima, Monaco berhasil menyamakan kedudukan 15 menit kemudian, melalui finishing bagus Falcao dari crossing Moutinho. Itulah gol kelima Falcao, yang menjadikannya top skorer sementara bersama rekan setimnya Emmanuel Riviere dan penyerang Evian Thonon Gaillard, Kevin Berigaud.
Catatan yang cukup menarik adalah, di pertandingan besar (dan mahal) itu Ranieri menurunkan lima pemain yang usianya 21 tahun ke bawah dalam starting line-up. Fabinho dan Layvin Kurzawa termasuk youngster yang tampil bagus di laga tersebut, selain dua senjtara mereka di sayap: Yannick Ferreira-Carrasco dan Lucas Ocampos.
Monaco pun menjadi tim tamu pertama yang paling merepotkan lini belakang PSG di kandangnya sendiri di musim ini. Ukurannya adalah 14 tembakan yang mereka ciptakan, walaupun hanya dua yang on target (dan satu yang membuahkan gol).
"Sebelum pertandingan saya penasaran, saya ingin melihat bagaimana pemain-pemain saya bertanding melawan pemain-pemain hebat," ungkap Ranieri seusai laga, dikutip dari Reuters.
"Kami punya banyak pemain muda dan jalan kami masih panjang. Tapi saya puas. Reaksi kami (setelah gol pertama) sangat bagus. Kami memperlihatkan keberanian, kekuatan mental. Tim ini punya masa depan yang bagus.
"Sebelum kickoff saya bilang kepada para pemain, hasil tidaklah penting buat kami. Saya cuma ingin melihat bagaimana mereka menghadapi tiga pertandingan dalam satu minggu.
"Saya ingin tim ini bermain lebih tenang, mencoba mempertahankan bola. Tapi ternyata sulit, banyak tekanan tinggi di lapangan. Jadi, pertandingan ini bagus buat kami karena pada akhirnya berimbang, dan Monaco telah mencoba menang sampai menit terakhir."
Catatan unik tentang Ranieri adalah, meski sudah 25 tahun menjadi pelatih berbagai klub top seperti Fiorentina, Valencia, Atletico Madrid, Chelsea, Parma, Juventus, Roma dan Inter Milan, tapi ia tak pernah menjadi juara liga di divisi tertinggi. Trofi tertinggi dia hanya satu Coppa Italia (1996), satu Copa del Rey (1999), dan satu Piala Super Eropa (2004).
Namun, ia dikenal memiliki reputasi sebagai figur yang mampu membangun (fondasi) tim. Dari situ ia memiliki julukan The Thinkerman, alias si tukang reparasi.
(din/a2s)











































