Trofi yang terbuat dari emas itu datang dengan dilindungi kotak dari kaca. Semua orang boleh melihatnya, tapi tidak boleh menyentuhnya.
Sedemikian sakralnya trofi Piala Dunia tersebut memang. Tidak boleh ada yang menyentuhnya, kecuali para kepala negara --ataupun perdana menteri-- dari negara yang dikunjungi ataupun para pemain dari negara yang pernah menjuarai Piala Dunia.
Bahkan Muslim Habibi, pemain terbaik dari Piala Coca-Cola 2012 yang jadi orang pertama menyambut trofi itu ketika tiba di Jakarta, hanya boleh berdiri berdekatan dengan trofi itu saja. Sang trofi, tentu saja, diam tak tersentuh dari balik kaca.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Begitu laga final selesai, begitu wasit meniupkan peluit panjang, dan pemenang sudah ditentukan, maka perayaan dimulai. Setelah mengangkat trofi seberat 6,17 kilogram yang seluruhnya terbuat dari emas itu, tim pemenang harus mengembalikannya kepada FIFA.
"Sementara, pemenang akan mendapatkan replika. Memang tampak seperti emas solid seluruhnya, namun sesungguhnya hanya luarnya yang disepuh dengan emas," ujar Perwakilan Coca-Cola Global, Annamaria Gazda, dalam acara FIFA World Cup Trophy Tour by Coca-Cola di Hotel Mulia, Jakarta, Senin (6/1/2014).
Selasa (7/1), trofi itu akan bertamu ke Istana Negara. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, selaku kepala negara, tentu boleh menyentuh dan mengangkatnya.
(roz/a2s)











































