Seperti telah diberitakan sebelumnya, kontroversi belum lepas dari penunjukan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Sebuah laporan menunjukkan ada bukti-bukti baru terkait suap dalam proses pemilihannya.
Penyelidikan pun digelar guna mencari fakta-fakta lanjutan dalam kasus yang menjerat Mohammed Bin Hammam, mantan anggota Komite Eksekutif FIFA dan tokoh kunci keberhasilan Qatar jadi tuan rumah Piala Dunia, tersebut. Sejalan dengan itu, wacana voting ulang pun bermunculan. Apalagi sebelum ini Qatar memang banyak mendapatkan sorotan akibat ancaman cuaca panas selama penyelenggaraan Piala Dunia.
"Sekali lagi, komite eksekutif telah mengatakan bahwa kami tidak menempatkan Piala Dunia di Qatar dalam tanda tanya. Dan kami sekarang sedang menunggu hasil investigasi yang telah dilakukan oleh otoritas independen," kata Blatter kepada Sky Sports.
Blatter lantas ditanyai pandangannya terkait voting ulang, apakah perlu dilakukan seandainya dugaan suap tersebut terbukti oleh tim investigasi.
"Saya bukan nabi. Itu saja. Kami menunggu hasil investigasi dan kita akan lihat apa yang akan terjadi," sahutnya.
Sementara itu, Inggris melalui Perdana Menteri David Cameron mengaku siap menggelar Piala Dunia 2022 jika memang hak Qatar dicabut. Inggris sendiri sebelumnya merupakan saingan Qatar dalam pemilihan tuan rumah.
"Kita harus membiarkan investigasi berjalan sesuai arahnya. Tapi tentu saja, Inggris adalah rumah dari sepakbola. Jadi kami selalu senang bisa memberikan sebuah tempat untuk olahraga ini," tandas Cameron.
(raw/mfi)











































