Zlatan Ibrahimovic punya hubungan yang kurang baik dengan klub, pers dan pendukung Inggris. Saat dimintai pendapatnya soal skuat besutan Roy Hodgson, Ibrahimovic mengaku cuma kenal satu nama saja.
"Saya menyukai (Wayne) Rooney. Buat saya dia adalah pemain yang punya banyak rasa lapar. Saya pikir dia bagus untuk tim. Yang lainnya? Saya tidak bisa membuat penilaian karena saya tidak tahu mereka."
Pernyataan tersebut dilontarkan Ibra dalam wawancara panjangnya dengan Guardian. Pada wawancara tersebut Ibrahimovic bercerita soal perjalanan kariernya yang dimulai dari nol sampai kemudian meraih sukses dan dianggap sebagai salah satu pemain terbaik dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ibrahimovic menyebut kalau dirinya sangat sering diejek, direndahkan dan dilecehkan saat meniti karier. Namun itu semua justru jadi penyemangat untuk membuktikan kalau sukses pada akhirnya bisa dia dapat.
"Jadi bagaimana anak nakal dari Rosengard ini bisa berada di posisi saya sekarang ini? Mari kembali ke 15 tahun lalu dan semua yang saya impikan saat itu kini menjadi nyata. Semua orang melecehkan dan merendahkan saya? Sekarang mereka menelan sendiri kata-kata mereka. Inilah trofi saya yang sesungguhnya," cetus penyerang Paris Saint Germain itu.
Bahkan setelah meraih sukses di Swedia, Belanda, Italia dan Spanyol, masih banyak yang meragukan kehebatan Ibrahimovic. Salah satunya adalah pers dan suporter Inggris. Dasarnya adalah fakta bahwa pesepakbola yang baru saja berulang tahun ke-33 itu belum pernah menjuarai Liga Champions.
Namun Ibrahimovic kemudian membayar tuntas cibiran fans dan media Inggris terhadapnya. Itu dia lakukan saat Swedia menjalani laga persahabatan dengan Inggris pada akhir 2012 lalu. Ibrahimovic jadi bintang dengan memborong seluruh gol kemenangan 4-2 Swedia. Bukan itu saja, dia juga mencetak gol ajaib dengan tendangan salto jauh dari luar kotak penalti.
"Jika Anda tidak mencetak gol ke gawang tim Inggris makan Anda tidak cukup bagus. Selalu dikatakan seperti itu. Kapanpun saya bermain menghadapi tim Inggris saya tidak mencetak gol. Kemudian mereka bilang saya tidak cukup bagus. Begitu juga di pertandingan berikutnya. 'Lihatlah, dia tak cukup bagus'. Tapi itu memicu saya. Itu memacu adrenalin saya. Orang berpikir itu membuat saya kecewa tapi saya sebaliknya. Saya menjadi semakin marah dan ingin menunjukkan siapa saya."
"Saya mengambil risiko saat saya bermain jadi kadang saya terlihat biasa saja. Tapi kemudian datang Inggris. Mereka kembali mengatakan hal yang sama soal saya, tapi saya katakan kalau (pertandingan) itu akan fantastis β pertandingan pertama di stadion baru kami. Gol pertama lahir dan saya sangat gembira. Saat gol kedua datang saya menjadi gila. Dan saat mencetak gol ketiga saya melihat ke sekeliling βOK, mau bilang apa kalian sekarang?β Saat gol keempat, dengan tendangan salto, saya berpikir: 'Tuntas sudah. Saya tidak tahu lagi apa yang bisa saya lakukan. Bahkan jika Anda tinggal di Inggris saya harus bilang kalau itu memberi saya persayaan yang sangat spesial," paparnya.
(din/raw)










































