Bulan Oktober 2014 menjadi periode terkelam bagi sepakbola nasional. Selain terpuruknya timnas U-19 di Piala Asia, sepakbola gajah menjadi aib baru pada kompetisi domestik yang digelar PSSI.
Timnas U-19 menjelma bak primadona di tengah minimnya prestasi timnas senior Indonesia. Harapan itu muncul saat Evan Dimas dkk. berhasil menjadi juara Piala AFF U-19 pada 2013 lalu. Ekspektasi masyarakat pun kian tinggi, setelah Indonesia dipastikan mendapatkan jatah tampil di putaran final Piala Asia U-19 pada Oktober di Myanmar.
Berangkat dari sana, timnas U-19 mulai melakukan persiapan sejak Februari 2014. Badan Tim Nasional (BTN) pun sudah mempersiapkan program pelatnas dan ujicoba. Mulai dari tur nusantara I hingga jilid ke II. Lalu berlanjut ke tur Eropa, dengan melawan tim-tim berkelas seperti Barcelona B, Real Madrid, dan Atletico Madrid.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akan tetapi, harapan itu tidak sesuai dengan kenyataan. Pada ujian sesungguhnya di Piala Asia U-19 Myanmar, tim "Merah-Putih" justru terseok di fase grup. Di laga pertama, Indonesia kalah 1-3 dari Uzbekistan dan Australia 0-1. Bahkan laga terakhir, mereka juga takluk 1-4 dari Uni Emirat Arab.
Hasilnya, Indonesia lebih dulu angkat koper. Padahal target awal adalah lolos dari fase grup agar bisa tampil di Piala Dunia U-20.
Beralih ke kompetisi Indonesia, Komisi Disiplin PSSI kembali menjatuhkan sanksinya, kali ini kepada kota Solo, lantaran kerusuhan yang melibatkan antarsuporter usai laga pertandingan Divisi Utama antara Persis Solo melawan Martapura FC. Akibat peristiwa tersebut, satu orang suporter bernama Joko Riyatno tewas.
Setelah mempertimbangkan banyak hal, Komdis melalui ketuanya Hinca Panjaitan memberikan hukuman kepada kota Solo berupa larangan menggelar aktivitas sepakbola selama enam bulan.
Wajah sepakbola Indonesia kian tercoreng setelah dikejutkan oleh kasus 'Sepakbola Gajah' yang diperagakan oleh PSIS Semarang dan PSS Sleman pada laga semifinal Divisi Utama Liga Indonesia.
Pada laga yang digelar di Stadion Sasana Krida, Angkatan Utara, Yogyakarta, Minggu (26/10), kedua tim melakukan tendangan bunuh diri ke gawangnya masing-masing, hingga berakhir dengan skor 3-2.
Kedua tim diduga sengaja mengalah demi menghindari Pusamania Borneo FC yang disebut-sebut sebagai tim yang paling dihindari.
Sementara itu kabar datang dari sepakbola internasional. Juara dunia Spanyol secara mengejutkan takluk oleh Slovakia 1-2 pada ajang kualifikasi Piala Eropa 2016. Kekalahan tersebut menjadi kali pertama bagi Spanyol di delapan tahun terakhir keikutsertaanya di kualifikasi Piala Eropa.
Hasil negatif juga didapatkan oleh Jerman. Pada babak kualifikasi Piala Eropa 2016, tim besutan Joachim Loew itu kalah 0-2 dari Polandia.
Kekalahan tersebut memutus catatan apik Jerman yang sudah bertahan selama 16 tahun. Sebelumnya, Die Mannschaft tak pernah kalah di sebuah laga tandang ajang kualifkasi, baik Piala Eropa maupun Piala Dunia.
(ads/roz)











































